Dari Pasar Minggu ke Cinema Paradiso 11

Senin, 11 Jan '10 17:39

Tempo hari, ada kawan yang mengabarkan bahwa bioskop Nirwana yang legendaris di Pasar Minggu itu sudah tutup. Semakin berkurangnya penonton yang datang agaknya menjadi sebab mutlak. Konon, ruang pengap itu akan ditata ulang dan dibuat lapangan futsal.

Saya belum tahu itu kabar sahih atau tidak. Tapi, pastinya, ingatan saya sontak terlempar ke dekade awal 1990an: Masa kejayaan si bioskop yang sungguh nafsu memutar film-film setengah biru. Hari-hari itu, saya dan teman-teman sebaya yang baru akil balig secara rutin di awal bulan, selama kira-kira setahun, mengantri di loketnya yang kusam untuk menyimak film-film berjudul ajaib!

Itu adalah masa-masa ketika menonton bioskop, secara beramai-ramai, punya kekuatan lebih biarpun cerita-cerita yang ditembakkan di layar sungguh tak masuk akal. Itu adalah tahun-tahun penuh gejolak ketika duduk di belakang dan terangsang selalu bisa bikin girang. Pada mulanya adalah proyektor, memang, yang mampu menggiring kami menjadi 'dewasa' lebih dini.

Bukankah itu pula yang terjadi dengan Salvatore dalam sebuah bioskop kecil di daerah Italia Selatan, seorang bocah penuh daya hidup, yang akhirnya jatuh cinta pada gambar hidup dalam film dahsyat karya Giuseppe Tornatore "Cinema Paradiso" (1988)? Ia, yang dengan intim dipanggil Toto, bersama kawan-kawannya nyaris hadir dalam setiap pemutaran film. Mereka tertawa bersama Charlie Chaplin. Mereka bersorak-teriak bareng John Wayne. Dan mereka mengelola birahi bersama Ingrid Bergman.

Suasana guyub-mesra itu bahkan kerap mengundang orang yang datang menonton punya cara mengekspresikan diri yang khas. Ada seorang lelaki kelas menengah yang selalu meludah dari balkon ke bangku kelas ekonomi di bawahnya. Ada seorang lelaki yang selalu tertidur. Ada pasangan yang takrisih bercinta.

Di tengah itu, ada mata yang senantiasa takjub merekam tiap gambar dan telinga yang setia menangkap kalimat-kalimat sedap: Mata dan telinga Toto.

Toto lalu berteman dekat dengan Alfredo, sang juru putar proyektor, dan belajar bagaimana menjalankan proyektor meskipun sang suhu berkata, "jangan kamu menjadi seperti saya."

Si bocah memang tak bernasib seperti Alfredo, yang matanya buta ketika gulungan film terbakar dan menghanguskan bioskop itu. Ia pergi ke Roma, menjadi sutradara, dan menjadi kaya lewat film-filmnya.  Ia hanya kembali waktu mendengar kabar Alfredo wafat.

Selanjutnya kita tahu bahwa meninggalnya Alfredo di saat yang sama juga menghapuskan segumpal kenangan pada diri Salvatore. Namun itu saja tidak cukup. Bioskop yang kini telah kehilangan warna dan semangatnya itu diruntuhkan demi berdirinya sebuah supermarket. Bersama hancurnya Cinema Paradiso dan matinya Alfredo, masa lalu Toto sungguh telah raib.

Saya kira Goenawan Mohamad benar ketika dia menulis bahwa ada selalu sesuatu yang sentimentil dalam cerita yang menangisi masa lampau yang hilang di sebuah kota kecil. Kita mungkin, setidaknya saya,  juga kadang merasakan hal demikian.

Masa lalu binasa tidak hanya melalui bioskop yang rubuh, sungguh. Namun juga lewat ingatan yang rapuh.

PS: Film ini bisa dicari di, dan diunduh dari, internet :)


Tag: Film

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

deadeye doll 0 0
cinema paradiso, nirwana, dan kalo gw, BISON BARU di bdg : |
GREAT ARTICLE!

mokas 0 0
di provinsi tempat saya duduk2 dan menerima honor, tidak ada bioskop.
dimatikan sejak lama.
hash...malangnya saya : (
bonmw 0 0
deadeye doll: Bioskop Bison itu yang di Sukajadi ya, Ri? Temen yang tinggal di sekitar situ pernah cerita dia mengalami nonton Fatahilah di sana.

mokas: Daerah manakah itu gerangan?
maharrani 0 0
Wow!

"Masa lalu binasa tidak hanya melalui bioskop yang rubuh, sungguh. Namun juga lewat ingatan yang rapuh.."

ini nyindir gue ya? : ))

Berarti bagus juga ya ingatan yang rapuh untuk melupakan masa lalu yang getir. Ugh...

bonmw 0 0
maharrani: *nyindir maskoki dan Leonard si abang Memento*
deadeye doll 0 0
bonmw: yoi. Seiring dgn maraknya 21 baru, doi nyoba renov. Setelah kalah, coba ngepush dgn game centernya yg 2 lantai, lalu kebanting sama timezone, lalu buka lapak buat yg jualan baju dan makanan, tapi keinjek seketika sama PVJ.
Perkenalan gw dengan Febby Lawrence bermula dari situ.
mokas 0 0
bonmw: di ujung utara sumatera.
[ -(
menyebalkan [ -(
bonmw 0 0
deadeye doll: Febby si 'Gadis Metropolis' : )) Padahal bioskop2 kecil punya keluwesan untuk memutar film. Film Blue Velvet yang kelam itu aja pernah diputar di bioskop kita sebelum jaringan 21 digdaya.

mokas: haduh, ikut berduka aja deh
deadeye doll 0 0
mokas: bisa jadi alasan untuk mensyukuri lapak2 dvd bajakan mungkin,bang
bonmw: iya sih, sayangnya blue velvet ga bisa mempercepat BEP. mendingan diberdayakan sama komunitas film kali ya... Eh mereka mah udah pada bikin ruang teater sendiri dan kerjasama dgn teater non mainstream itu ya? : )
mokas 0 0
deadeye doll: ho oh, jadi ngurangin rasa bersalah ; ))
bonmw 0 0
deadeye doll: mungkin juga ya. setidaknya memelihara semangat dalam ruang(-ruang) lebih kecil juga tak kurang berharganya daripada mati sama sekali : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat