Departures (Okuribito) 4

Jumat, 8 Jan '10 10:18

Orang Jepang mengenal ritual nōkan. Mensucikan jenazah di hadapan keluarga yang ditinggalkan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi ia yang mangkat.

Diago Kobayashi (Masahiro Motoki) tidak pernah bercita-cita menjadi juru nōkan. Cita-citanya adalah menjadi pemain cello. Dia terpaksa melamar menjadi nōkan di desa tempat ia besar setelah kelompok simponinya di Tokyo bubar. Itupun tanpa sengaja lantaran koran salah mencetak lowongan kerja di agen “Departures” (keberangkatan) di mana mustinya dicetak “Departed” (kemangkatan). Diago mengira dia melamar ke agen travel, bukan agen nōkan.

Tetapi penghormatan kepada jenazah tidak jauh berbeda dengan musik klasik yang musti diperlakukan dengan hormat dan lembut. Semakin lama seni baru itu ia geluti, Diago menemukan detak hidup baru dan menguak potongan hidup yang selama ini telah ia tinggalkan. Dan seperti kehidupan, Departures tidak melulu soal hal-hal pahit, dalam beberapa saat selalu ada kekonyolan yang membuat ceritanya utuh.

Maka sudah pada tempatnya jika film Yōjirō Takita memenangkan Oscar untuk film bahasa asing terbaik dan Academy Awards Jepang, juga untuk film terbaik. Kepiawaian Masahiro Motoki memainkan perannya mendorong alur cerita mengalir dengan penuh hati-hati, menyelami kerapuhan hidup.

Ini adalah salah satu film bagus yang pernah saya tonton dan akan nangkring dalam rak ingatan di mana film favorit dijajarkan dengan rapih.


Tag: nokan, departures, okuribito, Masahiro Motoki, Diago Kobayashi, Y jir Takita

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maharrani 0 0
Waw..ini bisa jadi motivasi juga ya..menekuni sesuatu yang kita nggak suka sampai akhirnya menemukan ada nilai lebih di balik itu semua. Sepertinya keren film ini : D
mokas 0 0
ada bajakannya?

*kaburrr : D *
gigides 0 0
mokas: bagi-bagi yaaa kalo udah dapet ... : D

soalnya di tempat penyewaan dvd/vcd original belom ada... : D
bonmw 0 0
Gue paling suka bagian ketika si Kobayashi sedang termenung di atas jembatan, memperhatikan Salem yang ingin kembali ke hulu, ke rumah. Di situ seorang kakek menegurnya, berpetuah tentang rumah. Nice film, meskipun banyak yang bilang Waltz with Bashir atau Gomorrah lebih pantas dapat Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film

Silahkan login untuk memberikan pendapat