The Princess and the Frog 10

Selasa, 5 Jan '10 11:10

Tahun 2004, di antara hiruk-pikuk film-film animasi 3D yang terus bersemai, CEO Walt Disney Company memutuskan untuk stop membuat film animasi 2D, dan selanjutnya hanya membuat film 3D. Tidak ada lagi film-film animasi gambaran tangan sekelas Pinnochio, Beauty and the Beast, Lion King.

Tapi itu 2004.

Tahun 2005 Micheal Eisner, si CEO, mundur dari jabatannya setelah ditekan oleh kampanye Save Disney yang dibidani oleh kemenakan mendiang Walt Disney, Roy Disney. Tahun 2006, Disney mengakuisisi Pixar. Dan di tahun yang sama, Disney dengan lantang dan mengejutkan menyatakan kalau Disney akan kembali membuat film animasi 2D berjudul The Princess and the Frog.

Jadi musti dimengerti bahwa Princess bukan sekedar film, tetapi juga taruhan. Juga bukan sekadar taruhan di box office, tapi juga taruhan apakah animasi gambaran tangan masih bisa bertarung dengan animasi 3D, atau sudah waktunya pensiun dari pangkat seni komersil dan menyelinap pelan untuk disimpan di museum.

Sayangnya animasi hanyalah medium, pada esensinya ia “cuma” film yang tetap mengadalkan karakter, visual, suara dan alur cerita yang pas. Walaupun animasi Princess digarap dengan halus lentur, dan visualnya sangat cantik, tapi ceritanya terasa baru digarap sebulan.

Padahal premisnya sudah sangat menjanjikan. Tahun 1912. Musik jazz. New Orleans yang romantis. Tokoh gadis kulit hitam workaholic di era presiden kulit hitam. Dongeng anak-anak yang diputarbalikkan.

Tiana, princess Disney kulit hitam pertama ini, bercita-cita membuka restoran sendiri. Alih-alih punya restoran, gedung restorannya diserobot oleh orang lain, dan ia justru disihir menjadi katak karena mencium katak. Katak yang ia cium sebetulnya adalah pangeran Naveen yang disihir oleh Doctor Pacifier, dukun voodo tukang tipu.

Rasanya mustahil kalau Princess bisa disandingkan dengan Lion King atau Beauty and The Beast. Tapi bisa jadi ini adalah film animasi gambaran tangan Disney yang terakhir dalam beberapa tahun ke depan, tidak ada salahnya ditonton sebelum benar-benar punah.


Tag: animasi, disney, the princess and the frog, walt disney

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

missmaharrani 0 0
Tapi bagaimana dengan kehebohan Tiana sebagai black princess pertama.
Dengar-dengar di negeri Obama, anak-anak berkulit hitam begitu excited menyambut Tiana.
Akhirnya mereka punya role model seperti si pirang yang menaruh harapan dan mematut diri pada Cinderella.
Apakah sekarang mereka juga bisa melakukan hal yang sama pada Tiana? : )
Herman Saksono 0 0
missmaharrani: Tapi Tiana itu motto hidupernya bekerja dan bekerja. Bukan role model yang adil kalau dibandingkan Cinderella. : D
Chika 0 0
jadi penasaran pengen nonton. : )
missmaharrani 0 0
Herman Saksono: Cinderela kan juga bekerja disiksa ibu tiri ; ))

Chika: yuk nonton bareng!
Alderina 0 0
Sangat pengen nonton. Kalau ceritanya begitu mudah tertebak, bukannya wajar ya? Kan memang untuk anak-anak
Herman Saksono 0 0
Ayo ditonton, kalau box officenya lumayan mungkin Disney akan mempertimbangkan bikin animasi gambaran tangan lagi.

Alderina: saya tidak bilang ceritanya mudah ditebak lho, cuman ceritanya kurang groundbreaking untuk jamannya.
mlandhing 0 0
Herman Saksono: kalau aku yang seru kok justru ide out of the box-nya itu... mustinya ketika berciuman, kodok jadi pangeran... yang ini justru putrinya yang jadi kodok... disney emang tukang manin-main... salut.
sofie 0 0
nah, untuk klub film menarik niiihh, bagaimana sih ideologi disney terhadap isu kelas dan kulit ini : D, soalnya pernah di tulisan missmaharrani tu kabarnya ada pesan terselubung soal anti keberagaman gitu ya? bener gak sih?
Alderina 0 0
Maksudnya kan ga ada variasi gitu ya mon? Mungkin karena benar-benar untuk anak-anak, jadi ga dibuat yang terlalu rumit gitu.

eh tapi aku belum nonton T_T
Herman Saksono 0 0
Alderina: ayo nonton!! : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat