Luna Maya, Bibit&Candra, dan Prita 8
Minggu, 27 Des '09 19:07
Coba search page Bubarkan Acara Infotainment yg ada di facebook. Cuma dalam 5 hari sejak didirikan, udah ada hampir 8000 lebih pendukung. Bayangin dalam seminggu, sebulan, dua bulan…bakal ada berapa ribu lagi yg ikut ngedukung di page itu.
Ga sulit kok mengira2 kenapa bisa sampe segitu banyak orang yg ikut ngedukung. Let me ask bout something…kenapa bisa sampe jutaan orang yg ngedukung Bibit&Candra? Kenapa bisa sampe kekumpul duit recehan Koin Untuk Prita senilai 600juta lebih? Simple…karena Bibit&Candra serta Prita adalah simbol representasi buat masyarakat. Bibit&Candra ga dilihat dari sisi individu, tapi dari sisi institusi yang mereka bela, KPK. Ya, KPK menjadi satu2nya simbol perlawanan yang dipercaya rakyat yg udah muak sama koruptor! KPK dianggap rakyat sebagai perwakilannya, ujung tombak melawan korupsi. Menyakiti KPK dianggap rakyat sama dengan menyakiti mereka.
Sedangkan Prita, dia menjadi representasi dari rakyat biasa yg merasa tidak puas atas pelayanan dari satu institusi pelayanan kesehatan. Prita, seorang rakyat biasa, yg menyuarakan ketidakpuasannya tersebut malah dituntut pihak institusi pelayanan kesehatan tadi. Hak seorang konsumen untuk menyatakan ketidakpuasan atas sebuah layanan. Eh, malah dipenjara, plus denda ratusan juta pula! Rakyat merasa tersakiti.
Pemicu dari Bubarkan Acara Infotainment mungkin karena kasus Luna Maya vs Infotainment. Kenapa saya menyamakan kasus ini sama kasus Bibit&Candra dan Prita? Gini...ini juga salah pihak infotainment juga. Pertama, acara2 infotainment lah yg selalu menggembar-gemborkan bahwa artis itu milik publik. Kedua, infotainment juga yg membuat seolah2 kita (baca:pemirsa) ngerasa deket sama Luna Maya. Gimana nggak?? Luna Maya pacaran sama siapa kita tahu...Luna Maya lagi belanja kita tahu...Luna Maya beli rumah baru kita tahu...dan tetek bengek lainnya yang kita tahu melalui infotainment. Nah kalo udah gini, kita jadi ngerasa Luna Maya tuh temen kita. OK, ga sepenuhnya temen, at least kita tahu Luna Maya beserta tindak tanduknya. Ga masalah Luna Maya ga kenal sama kita, yg penting kita kenal Luna Maya. Luna Maya kan artis, jadi Luna Maya milik kita donk. Nah, sekarang saya tanya...kalo sesuatu yg milik Anda itu dirusak, atau diganggu, atau disakiti, apa Anda bakalan diem aja? Ngga donk?!
Mungkin Anda berpikir, saya subjektif. Gara2 saya suka Luna Maya makanya saya belain. Mungkin saya subjektif, tapi bukan karena saya suka sama Luna Maya. Begini...subjektivitas seseorang itu terbentuk dari persepsi dan persepsi itu sendiri terbentuk salah satunya dari pengalaman.
Bibit&Candra vs polisi. Berapa banyak dari Anda yg pernah merasa terzhalimi sama pak polisi? Yg ngerasa pernah kena jebakan batman sama polisi, trus diancam mau ditilang yang ujung2nya ya perpindahan lembaran uang 50ribu sampe 100ribu dari kantong Anda ke kantong pak polisi. Saya yakin itu bukan karena Anda tidak mau ditilang, tapi karena prosedur sidang tilang itu yg berbelit2 dan terlalu banyak birokrasi yg bikin Anda males ditilang. Jewer kuping saya kalo saya salah! Salah kalo sebagian besar orang jadi punya subjektivitas sama Bibit&Candra? Rakyat merasa jadi senasib sepenanggungan sama Bibit&Candra yg dizhalimi pak polisi.
Prita vs RS Omni. Berapa banyak dari Anda yg pernah merasa tidak puas atas pelayanan satu rumah sakit? Berapa banyak dari Anda yg pernah ngerasa udah ngeluarin banyak duit buat berobat tapi hasilnya mengecewakan? Mau protes pun bingung. Masa protes sama suster atau resepsionis? Mo protes sama pihak manajemen pun ribet. Bikin janji dulu lah, ini lah itu lah. Ribed dah! Trus kalo udah ngajuin protes juga paling cuma jadi angin lalu aja buat pihak manajemen rumah sakit. Besok jg udah lupa. Apa yg dialami Prita, bukan ga mungkin bakal dialami juga oleh kita, yg sama seperti Prita adalah rakyat biasa. Salah juga kalo sebagian besar orang punya subjektivitas sama Prita?
Luna Maya vs infotainment. Berapa banyak dari Anda yg jengah sama infotainment? Berapa banyak dari Anda yg mulai ga tahan lagi sama infotainment? Dari mulai mo berangkat kekantor, istirahat makan siang, sampe pulang dari kantor pun kita terus dijejelin sama infotainment. Inget hukum Gossen. Ketika kita haus, segelas air yg kita minum rasanya nikmat luar biasa. Mulai gelas kedua dan seterusnya kenikmatannya pun semakin berkurang. Cukuplah infotainment itu siang aja, pas makan siang. Dijejelin mulu sepanjang waktu, tiap hari, 7 days a week, yg ada malah pengen muntah ngliatnya! Jadi, suara Luna Maya bukan ga mungkin dan bahkan sangat mungkin adalah suara sebagian besar rakyat juga. Rakyat yg ngerasa muak sama infotainment. Salah kalo sebagian besar orang juga punya subjektivitas sama Luna Maya?
Mungkin kasus Luna Maya telah memicu dan membangun satu kesadaran dalam masyarakat untuk melawan satu keadaan yg udah dianggap normal. Keadaan yg udah terlalu lama didiemin dan lama kelamaan dianggap biasa. Coba jawab pertanyaan saya ini berdasarkan hati nurani Anda yg paling dalam: Biasakah menurut Anda ketika orang2 membicarakan artis A selingkuh sama si B? Biasakah menurut Anda ketika orang2 asyik menggunjingkan rumah tangga si C dan si D yg terancam bubar? Biasakah menurut Anda ketika orang2 berspekulasi siapa ayah dari bayi yg dikandung artis E yg tanpa ikatan pernikahan itu?
Saya ajukan pertanyaan lagi...seandainya Anda yg berada pada posisi si artis2 tadi diatas? Gimana perasaan Anda diomongin orang seantero negeri? Seneng? Gembira? Bahagia?
Saya menyaksikan acara Debat di TvOne (saya lupa harinya dan jam berapa) yg sedang membahas masalah Luna Maya vs infotainment. Ada seorang wanita dari kubu pekerja infotainment yg mengatakan “Bohong kalau orang tua Anda nggak suka infotainment!!” Mungkin si mbak ini ngga salah, tapi ucapannya itu menimbulkan pertanyaan dalam diri saya “Emang ada ya anak yg merelakan orang tuanya menghabiskan masa2 tuanya dengan memenuhi otaknya dengan perselingkuhan, perceraian, pertikaian, dan tetek bengek lainnya seputar artis2?” Kalo saya sih ga rela. Kenapa? Anda juga ga rela kan? Ya alasan saya sama seperti Anda.
Coba lihat lagi dalam situasi yg dibalik. Berapa banyak orangtua di kota2 besar yg keduanya sibuk bekerja dan terpaksa meninggalkan buah hatinya dirumah sama si mbak asisten rumah tangga atau babysitter? Ga sedikit saya kira. Pernahkah Anda mengecek acara apa aja yg ditonton anak Anda dirumah ketika Anda sedang dikantor? Percayalah, tontonan yg ditonton anak Anda dirumah ya apa yg ditonton sama mbak asisten rumah tangga dan babysitter Anda. Saya pernah punya beberapa pengalaman soal asisten rumah tangga yg doyan banget infotainment. Kalo mbak asisten rumah tangga atau babysitter Anda nontonnya infotainment, ya anak Anda juga pasti ikut nonton, wong mbak asisten atau babysitter Anda bayar buat jagain anak Anda toh? Ya pasti anak Anda selalu ada disamping mbak asisten atau babysitter, termasuk ketika mereka nonton infotainment. Ingat, kognisi anak usia 3-5 tahun itu sedang bagus2nya. Memori mereka akan kuat merekam apa yg mereka liat, dengar, dan mereka rasa. Jadi jangan kaget ketika Anda pulang kantor anak Anda bertanya, ”Ayah, bunda, selingkuh itu apa sih?” atau ”Ayah, bunda, cerai itu makanan apa ya?Enak ga?” atau ”Ayah, bunda, anak haram itu apa sih?Papanya namanya haram ya?”
Media itu powerful. Gimana nggak? Mereka bisa nentuin hal apa yg dibicarakan dan dibahas oleh masyarakat. Agenda setting media. Media yg menentukan hal apa yg penting dan apa yg tidak penting dengan seberapa sering mereka mengekspos hal tersebut. Semakin sering diekspos, maka dianggap semakin penting lah hal itu. Media infotainment juga kayak gitu. Mereka terus2an mengeskpos kehidupan artis2. Segala macem urusan dan permasalahan dalam hidup artis dijadikan hal penting oleh media infotainment dengan mengeksposnya pagi, siang dan malam.
Jadi sebenernya bukan masyarakat yg menghendaki infotainment. Masyarakat banyak yg ga ngerti ada apa dibalik sebuah agenda media. Mereka taunya ya pencet tombol on di remote TV dan menikmati apa yg nongol di layar TV mereka. Pencet on, infotainment. Ganti channel, infotainment lagi. Ganti channel lagi, eh infotainment juga. Ganti lagi, wah infotainment dimana-mana!! Yah terpaksa nonton deh, ga ada pilihan lagi soalnya. Ada pepatah, ”suka karena biasa” dan ”witing tresno jalaran suko kulino” (maaf kalo ada salah ejaan, saya jawa KTP). Lama2 ya masyarakat jadi suka dan mungkin jatuh cinta sama infotainment. Itulah hebatnya dunia industri hiburan. Pandai memanipulasi pasar.
Ga salah sih memang kalo kita mencari peruntungan atau rejeki dengan membuka sebuah usaha. Malah bagus kok, yg berarti juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi para penganggur. Tapi, harus juga diperhatikan efek, dampak, dan akibat dari usaha tersebut. Apa Anda rela melihat generasi saat ini menganggap selingkuh, perceraian, hamil di luar nikah sebagai hal yg lumrah dan biasa? Apa Anda rela melihat masyarakat lebih sibuk mendiskusikan kehidupan pribadi artis2? Artis juga manusia biasa kok. Mereka punya masalah pribadi dan bahkan sangat pribadi. Dan saya juga yakin, 109% yakin mereka ga mau masalah pribadi dan sangat pribadi mereka itu diobok2 sama orang lain, apalagi sama media infotainment. Anda kalo jadi artis gimana? Emangnya mau diobok2?
Kita juga ga mau tau kok tentang masalah2 pribadi artis...kalian aja para pekerja infotainment yg punya keyakinan bahwa kita mau tau. Mungkin kalian aja yg mau tau trus buang bodinya nuduh kita (pemirsa) deh yg mau tau.
Tapi kalo emang segitu susahnya ngerubah tabiat para pekerja infotainment, ya saya pegang aja remote TV saya terus. Kalo ada infotainment, ganti channel. Saya mendingan nonton deretan iklan daripada nonton infotainment. Kenapa? Karena saya lebih menghargai proses kerja orang2 advertising agency ketimbang pekerja infotainment. Orang2 advertising agency emang dituntut untuk kreatif dan imajinatif dalam pekerjaannya. Sementara pekerja infotainment yg mengaku dirinya adalah wartawan tidak dituntut untuk kreatif dan imajinatif. Kreatif juga dibutuhkan sih dalam penulisan berita. Tapi kalo berita itu imajinatif, wah bisa celaka tuh pekerja infotainment! Kalopun pekerja infotainment mau dianggap sebagai wartawan sejati, well wartawan sejati selalu mengedepankan fakta serta cover both side bung! Lha ini, beritanya juga kebanyakan ga faktual, cuma berdasarkan asumsi dan rumor belaka alias imajinatif. Kebanyakan juga cuma one sided story, tanpa klarifikasi.
People’s power is the biggest power. Saya ga perlu nyebutin satu2 apa aja yg udah berhasil diperjuangkan oleh kekuatan rakyat. Masyarakat sudah lebih tau apa yg sebenarnya terjadi. Masyarakat sekarang lebih kritis. Dan saya semakin kurang kerjaan nulis artikel sepanjang dan selebar ini =p
Tag: luna maya, infotainment, bintang
Terkait:
-
Luna Maya dan PELACUR
Selasa, 22 Des '09 11:09 -
Ratapan Ibu Tiri
Kamis, 22 Des '11 09:32 -
Syahrini dan Cobaan Itu
Kamis, 26 Mei '11 13:21


Komentar:
Hanya aja yang perlu direnungkan, bagaimana cara mereka mendapatkan gambar atau wawancara yang kita lihat di tayangan infotainment itu.
Soal masyarakat dan perlawanan. Ya, dibarengi sama tumbuhnya social media, perlawanan makin mudah. Nggak perlu lagi dengan teriak-teriak sampai mulut berbusa di depan DPR atau istana. Dengan sekali klik, kita sudah bisa menyatakan sikap.
Mungkin itu kenapa Tempo memilih publik sebagai Tokoh Tahun 2009
btw ini tulisannya bagus sekali. sayang baru nongol sekarang. padahal bisa jadi bahan referensi tugas saya kemarin. *OOT*
missmaharani: publik sebagai Tokoh Tahun 2009 membuktikan kalo social awareness masyarakat republik ini sudah semakin tinggi
titiw: oke, nanti aku tulis2 lagi...boleh tentang kamu tiw? ; ))
chika: baru nongol sekarang soalnya dari kemaren dipendam di fesbuk ; ))
kecuali acara traveling yg mengekslporasi daerah-daerah terpencil, bukan tempat wisata yg lagi-lagi hostnya artis, belanja-belanja..
Silahkan login untuk memberikan pendapat