Storm Warriors: 11 Tahun Setelah Storm Riders 1

Jumat, 25 Des '09 21:56

Tahun 1998, waktu masih jadi anak kosan di Bandung, menyewa sebuah VCD dengan judul STORM RIDERS (FUNG WAN), bintangnya Ekin Cheng dan Aaron Kwok. Gambarnya masih jelek karena "nembak" dari bioskop. Tapi, saya dibikin tercengang karena dunia film Hong Kong sudah mulai coba-coba menyaingi special effect berstandar Hollywood.

Film yang diangkat dari manhwa (bahasa Cina untuk komik) berjudul FUNG WAN atau WIND AND CLOUD (pernah terbit di Indonesia tahun '90-an) ini berhasil memunculkan efek-efek spektakuler, terutama ketika para tokohnya mengerahkan ilmu sakti mereka. Pemunculan hewan Kirin yang seluruh tubuhnya diliputi api juga digarap cukup serius.

11 tahun kemudian, tanpa diduga, Pang Brothers (sutradara THE EYE) membuat sekuelnya. Judulnya STORM WARRIORS (FUNG WAN II). Dan beruntung sekali, film ini masuk Indonesia. Sayangnya, tempat pemutarannya sangat terbatas. Akhirnya, hanya di Pluit Junction saja film ini masih main. Saya bersama pacar, sebagai anak Jakarta Selatan, bersusah-payah pergi ke daerah Utara demi menonton film ini.

Untungnya, film ini tidak mengecewakan. Ceritanya memang tidak memberikan ruang bagi perkembangan karakter atau momen-momen emosional, sepanjang film nyaris dipenuhi pertarungan (di sebuah media asing bahkan terbersit kabar bahwa dialog dalam film ini hanya ada 200 baris). Tapi justru itu yang saya cari-cari.

Ceritanya, Lord Godless (Simon Yam) dari Jepang datang untuk menaklukkan daratan Cina. Para pesilat Cina diracun hingga tidak bisa melawan. Untungnya Wind (Ekin Cheng) datang menyelamatkan Cloud (Aaron Kwok) dan Nameless (Kenny Ho). Dengan pengorbanan para pesilat lain, ketiga pendekar ini berhasil lolos untuk melatih diri menghadapi Godless.

Dari Lord Wicked, Wind belajar ilmu tenaga dalam yang kuat, tapi pemilik tenaga dalam itu bisa tiba-tiba menjadi iblis yang membunuh dengan membabi buta. Sedangkan Cloud yang terlalu agresif diangkat murid oleh Nameless, karena memiliki potensi hebat dalam membaca jurus-jurus yang dikerahkan Nameless. Nameless sendiri adalah petarung terkuat dalam film ini, sayangnya dia terluka karena memaksakan dirinya yang belum pulih dari racun saat melawan Godless. Pertarungan puncak terjadi antara Cloud yang berusaha menyadarkan Wind yang tengah dalam kondisi dikuasai kejahatan dalam dirinya.

Para wanita pendukung film ini (Charlene Choi dan Tang Yan) hanya menjadi penghias saja. Adegan demi adegan berjalan dengan cepat karena belum apa-apa kembali terjadi pertarungan disusul pertarungan lainnya. Dialog hanya menjadi pengantar atau sekadar pemberi ruang untuk bernafas untuk kemudian masuk ke adegan pertarungan baru.

Efek khusus, yang jauh lebih baik dari prekuelnya, menjadi andalan film ini. Bayangkanlah asap dan cahaya melesat dari tangan para jagoan ini. Hawa tenaga dalam keluar dari golok (berbentuk golok pula), menyambar cepat, membelah apa pun yang menghalangi. Tampang kedua pemeran utama, khususnya Aaron Kwok, yang nyaris tidak berubah (mereka sudah 40 tahun!!!) membuat saya takjub. Ending film juga menyiratkan potensi adanya sekuel.

Yang bermasalah adalah subtitel yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Seringkali timing-nya tidak pas, kadang kelewatan kadang tidak muncul-muncul. Dalam hati saya bertanya-tanya, pergi ke mana para penerjemah bahasa Mandarin itu? Apa honor mereka terlalu tinggi sehingga pihak perusahaan subtitel hanya memilih untuk menerjemahkan teks Inggris yang seringkali berbeda maknanya dengan bahasa asli filmnya?

Bagaimanapun, film ini tidak mengecewakan. Bagi penikmat pertarungan yang pernah menonton film pertamanya dan kecewa melihat minimnya baku hantam secara langsung di STORM RIDERS, film ini obatnya. Nantikanlah adegan "Pertarungan Dalam Pikiran" yang menarik secara konsep dan dieksekusi secara menawan pula. Jarak antara Bintaro-Pamulang-Pluit-Bintaro langsung tertebus. Film ini jauh jauh jauh jauh jauuuuuuuhhh lebih menghibur dari DRAGONBALL EVOLUTION yang nyaris bikin saya menusuk mata saya sendiri saking jeleknya.

Sayang sekali film ini sekarang sudah tidak diputar di bioskop-bioskop Jakarta. Mungkin Bogor? ^_^


Tag: Film, silat, bioskop, storm warriors, storm riders, ekin cheng, aaron kwok, kung fu

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Huwaa!! Rangga join sama warga Curi Pandang! Hai rangga!! *dadahdadahmanis*. Jadi kamu niat nonton film ini ke Pluit Junction dari daerah Bintaro dan sekitarnya itu..? ck ck ck.. sungguh perjuangan nak.. Kalo gak salah.. film2 dengan genre ini diputer juga secara subjektif di Gajah Mada Plaza.. Waktu dulu aku ke sana, dia cuma punya 3 teater,.. Film yang main, 2 film china, dan 1 lagi film holiwut yang udah rada telat. : D
PS: Dragon ball nusuk mata..? nyahaha..

Silahkan login untuk memberikan pendapat