Anang dan Standar Bahagia 5
Kamis, 24 Des '09 13:33
Saya tak tahu, apa yang ada di pikiran Krisdayanti, ketika kepada Anang dia berkata tidak lagi merasa bahagia. Saya bayangkan, sehabis umroh itu, mereka pasti sedang mensyukuri nikmat yang selama ini mereka raih. Dua anak yang sehat, harta yang berlimpah, dan keringanan hati untuk dapat mengunjungi Baitullah. Tapi, di pesawat itu, ketika KD bertanya, apakah kelak Anang sanggup untuk membiayai hidupnya, saya jadi ragu: tidakkah umroh itu hanya rekreasi fisik bagi mereka, dan bukan pembersihan batin?
"Saya merasa, Yanti sudah punya standar baru untuk merasa bahagia. Dan dia tidak percaya saya dapat memenuhinya...." kata Anang kepada Dewi Kumala, dalam acara "Separuh Jiwaku Pergi" yang tayang di GlobalTV, Senin (21/9) pagi.
Standar baru itu, penjelasan Anang berikutnya, adalah uang. Yanti merasa, dengan situasi seperti sekarang, dia takut 10 atau 15 tahun ke depan, tak lagi dapat menjalani hidup dalam kemudahan yang sama, kebebasan finansial. Tak heran, jika di depan ruko yang mereka tinggali, Aurel, anak mereka, dengan gemas berkata kalau KD materialistis. Mata duitan. Menomorsatukan materi sebagai ukuran kasih sayang.
"Selama ini, saya hidup dengan seorang diva," tambah Anang.
Betapa benarnya.
Anang merasa, Yanti tak lagi menjejak bumi, meninggalkannya dan anak-anak. Melangit dalam asmara yang panas bersama seorang pengusaha. "Saya hanya seorang seniman. Bisa saya ya menjual lagu," tambah Anang, seakan menegaskan kontras antara dirinya dan gelaran pengusaha. Antara jiwa yang bebas dari beban materi, digelayuti idealisme, dan sosok yang terobsesi pada kesuksesan finansial. Diva dekat dengan penguasa. Anang menerima kenyataan itu.
Ketika KD meminta cerai, Anang mengabulkannya.
"Bagi saya, fardhu ain untuk menceraikan Yanti. Semoga dia dapat menjadi lebih baik dengan pemimpin barunya."
Tapi, lepas dari perselingkuhan KD, tidakkah wajar jika dia ingin mengejar bahagia? Apakah salah jika dia menemukan standar baru, dan meninggalkan ukuran lama untuk merasa bahagia? Bukankah hidup adalah proses, sebuah langkah, bukan terminal? Dengan kata lain, tidakkah perselingkuhan dan perceraian itu adalah sebuah konsekuensi dari tujuan hidupnya untuk menemukan kebahagiaan?
Apalagi, "Seseorang baru bisa membahagiakan orang lain jika dia sudah merasa bahagia lebih dahulu," kata Dewi Lestari. Jadi, di luar perselingkuhan itu, tak ada yang salah, tak ada yang aneh dengan KD?
"Salah," kata Leo Rosten, penulis berbagai buku dan dosen. Bagi Rosten, tujuan hidup bukanlah untuk mengejar dan mendapatkan kebahagiaan. "Saya tidak percaya bahwa tujuan hidup ini adalah menjadi bahagia. Saya pikir tujuan hidup ini adalah menjadi berguna, menjadi bertanggung jawab, menjadi penghibur bagi orang lain. Itu di atas segalanya," katanya.
Dari kalimat itu, kita tahu, "Orang Lain" adalah subjek di dalam tujuan, bukan diri sendiri. Bersama orang lainlah kita dapat mencapai tujuan itu, bersama untuk memberikan kemanfaatan, kesenangan, dan bukan kesedihan. "Orang lain" itulah sumber bahagia, bukan diri sendiri. Jadi, pengabaian dan ketakyakinan KD kepada Anang justru menjadi anomali, pengingkaran dari statemen KD yang ingin mencari bahagia.
Tapi, barangkali, Rosten memang hidup di zaman yang berbeda dengan kita. "Orang lain" dalam pendapat Rosten menekankan egoisme yang terkendali, hidup dalam dulce et utile, menyenangkan dan berguna. "Orang lain" juga menekankan pengabdian pada sesuatu yang bukan bersifat materi, melainkan jiwa, yang bisa diajak berdialog, dalam satu kesepahaman, bukan kepemilikan. Tak heran jika KD tak memahami hal itu. Karena bagi dia, dan juga bagi kita, bahagia adalah bahagian, bagian. Sesuatu yang kita miliki, yang kita kuasai. Dengan itu kita dapat merasa memegang kendali, karena kita, seperti juga KD, acap lupa, bahwa seperti materi, hidup pun tidak abadi.
Tag: bintang, kd, anang, entahlah, bahagia
Terkait:
-
Syahrini dan Cobaan Itu
Kamis, 26 Mei '11 13:21 -
Anang dan Kemenangan Ingatan
Kamis, 12 Mei '11 17:26 -
Syahrini dan Kulit Kacang
Kamis, 24 Mar '11 13:01


Komentar:
Nggak nyangka ya KD kok gitu.. *sigh*
tapi, maharrani, barangkali kita saja yang tak bisa memahami standar bahagia kd, hehehe...
Anyway, kenapa si KD begitu panik dengan masa depannya ya..? Once dia udah memutuskan untuk menikah.. uangmu uangku dan begitu juga sebaliknya bukan..?
sayang, meski namaku langit, tapi bukan pengusaha, sehingga tak ada seorang diva pun yang melirik, hihihihihihi
Silahkan login untuk memberikan pendapat