Luna Maya dan PELACUR 20

Selasa, 22 Des '09 11:09

Luna Maya marah, dan pelacur dia jadikan senjata. "Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!..." tulisnya di twitter. Dan kita terperangah. Bukan. Bukan karena dia menghina infotainmen, melainkan diksi yang dia gunakan untuk mewakili umpatannya itu. Dengan pilihan kata itu, Luna bukan saja memaki infotainmen, melainkan, dan terutama, menghina pelacur. Tak heran jika di Tegal, para pelacur pun gerah dengan umpatannya itu.

Luna Maya, barangkali, belum pernah menonton Pretty Women. Di film itu, Vivian Ward, pelacur yang cantik itu, memikat kita bukan saja karena pesona fisiknya, melainkan "sejarah" hadirnya. Dia hidup dalam sebuah situasi yang membuatnya tak bisa memilih profesi lain, dan dia tidak bahagia. Di luar jam "layanan" itu, dia adalah sosok yang merdeka, lucu, dengan keluguan yang memancing iba. Dan kita jatuh cinta, terutama ketika mereka yang memandang hina dirinya, ternyata, lebih melacur dalam arti yang sesungguhnya.

Ada dua pelacur di film itu. Sebagai profesi, panggilan keadaan, dan sebagai sikap diri --ketertarikan jiwa. Vivian berada di posisi pertama, dan kita jatuh cinta. Pertama, karena dia punya cita-cita, memberi kita harapan. Kedua, karena profesi itu tak menghancurkan jiwanya, memberi kita rasa nyaman. Kita pun, dengan ringan, bisa menerima kehadiran Vivian, bukan sebagai sesuatu yang asing, apalagi hina. Kita tak pernah mempermasalahkan derajatnya.

Tapi Luna Maya tidak. Dia bicara derajat, dan juga neraka. Seakan derajat, dan juga neraka, adalah soal matematika, hal yang pasti, satu tambah satu sama dengan dua.

Tapi Luna tidak salah.

Kalau pun salah, dia tidak salah sendirian.

Luna adalah wakil dari kebanyakan orang yang memang menempatkan pelacur dalam level kasta terendah dari sebuah profesi, dan layak dijadikan ludah atau umpatan. Karena Luna, seperti kebanyakan orang lainnya, menempatkan profesi dalam skema moralisasi.

Moralisasi adalah sebuah sikap yang memandang apa pun dari kacamata moral. Dengan moralisasi, sebuah situasi selalu diukur dalam skala binner: hitam-putih, salah-benar, hina-mulia. Moralisasi menafikan penilaian yang lebih kaya warna, lebih adil, dan jujur. Termasuk untuk pelacur.

Karena pelacur bukan persoalan moral. Profesi ini bukan sikap diri --ketertarikan jiwa, melainkan ikatan keadaan. Sebagai panggilan keterpaksaan, pelacuran adalah problem sosial-ekonomi, dan dari kacamata itulah seharusnya dia dikaji. Melihat pelacur(an) dari kacamata moral, mengindikasikan sebuah ruang yang steril, hampa, sehingga menceng ke kiri adalah dosa, dan bergerak ke kanan menjumpa surga. Moralisasi dengan demikian bukan saja mengerdilkan melainkan juga menimbang sesuatu secara salah. Moralisasi, mengikuti kata Pramudya Ananta Toer, menjadi tidak adil sejak dalam pikiran.

Apalagi, dari kacamata moral pun, aktris, seperti Luna Maya, bukanlah profesi yang mulia. Di depan kamera --yang sangat berwatak lelaki--, aktris adalah "pelacur" juga. Bahkan, Koyuki Kazahana, Putri Salju dalam Naruto The Movie: Ninja Clash in the Land of Snow pernah berkata, "Menjadi artis adalah pekerjaan rendah yang bisa dilakukan semua orang. Bayangkan, kau harus menjalani hidup yang dipilihkan oleh orang lain."

"Menjalani hidup yang dipilihkan orang lain," kata Koyuki dengan nada pedih, yang membuat Naruto terpana. Betapa terasa tersiksa, dan juga hina. Apalagi, jika kita tahu, menjadi aktris lebih sering adalah ketertarikan hati, pilihan sadar, bahkan obsesi!

Tapi tentu, kita tak ingin seperti Luna Maya, yang memandang sesuatu dari moralitas semata. Kita harus lebih dewasa, dan belajar untuk terbiasa menilai sesuatu dari maqom-nya, bahkan ketika amarah mengambil kendali diri kita. Memakilah, mengumpatlah, untuk melonggarkan beban batin kita, tapi ingat, jangan jadikan pihak ketika sebagai senjata. Karena moralis ala "Silet" dan "Insert" bukan bagian dari kita. Karena kita punya Vivian, yang menunjukkan sisi sosial dan moral, dan kita jadi paham cara menempatkannya.

Jadi Luna, ayo kita tonton lagi Pretty Women. Berdua, saja. Ya??

 


Tag: luna maya, bintang, entahlah

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

La 0 0
nonton pretty woman ma aku aja... aku sukkkkka!
langit bara lazuardi 0 0
La: assyiikkk tapi ga bisa disambi makan bakso dong? hihiihhiihi
fadex 0 0
gimana kalo kita kopdar ama luna maya, trus rame-rame nonton 'pretty woman' mau?

nice article bung @langit lazuardi
langit bara lazuardi 0 0
fadex: jangannnn....... biar aku saja yang nonton berdua, hahaha... engkau di lain saat saja ya?
Chika 0 0
namanya juga emosi, jadi gak bisa ngerem kata-kata. mungkin harus coba nonton anger management juga kali ya. : ))

*ditimpuk*
langit bara lazuardi 0 0
Chika: nonton serendepity aja, bisa ketawa-ketawa, hehehe...
sofie 0 0
Selain nonton pretty women, dia mesti baca buku 'perempuan di titik nol' dan tentu yang mudah dicari adalah nonton Pertaruhan (At Stake) -Nia Dinata. Biar marahnya mikir : D
langit bara lazuardi 0 0
sofie: setuju. "perempuan di titik nol" nawal el-shadawi memang menjelaskan paling jernih tentang jeratan keadaan seorang pelacur. biar kita dapat lebih empati, dan tidak moralis yang salah arah.

mungkin sekalian nonton the flying dagger, ketika zang ziyi memilih menjadi pelacur bukan sebagai profesi, tapi juga strategi untuk merdeka.

makin terlihat kini, dunia tak hitam putih, derajat bukan hal yang bisa dilihat kasat mata.
maharrani 0 0
Saya sepaham sama langit bara lazuardi:
Hanya aja, saya juga percaya bahwa nggak semua pelacur itu melacur karena keadaan.
Kita nggak bisa menutup mata juga, ada dari mereka yang ingin hidup enak dengan cara..ya..melacur.
Apapun itu pilihan, dan siapapun berhak menentukan pilihan dalam hidupnya sendiri.

Soal Luna Maya, apapun menurut saya dia salah pilih kata. Hanya salah kata. : )
adhigama 0 0
1 kata buat tulisan ini.... *jempol*
langit bara lazuardi 0 0
maharrani benar. sebagai pilihan sadar, menjadi pelacur memang cara paling gampang untuk hidup enak dan nyaman. di berbagai forum saya juga baca mereka yang bahagia dengan "menjual diri". tapi, pilihan itu tetap saja lahir kemudian, setelah berbagai peristiwa yang tentu tidak saja berbau ekonomi. yang barangkali kita lupa, keadaan diri mereka, kesalahan, keterjerumusan, selalu menjadi prima causa, sebab awal, sebelum menjadikan diri mereka sebagai "modal" kerja.

iya, Luna Maya memang salah memilih kata. tapi bukankah kita tahu, kemampuan menentukan diksi juga persoalan yang tidak sepele. diksi juga soal intelektualitas...

thanks ya
langit bara lazuardi 1 suka | 0
adhigama: semoga jempol ke atas ya?
adhigama 0 0
langit bara lazuardi: dua jempol keatas...
langit bara lazuardi 0 0
adhigama: jadi mallu deh...
Titiw 0 0
Loh.. kemaren ak tulis komen di sini kok gak masuk ya..? padahal udah panjang.. mungkin pas lagi down kemaren ya...? huhu.. intinya.. saya ikut 4 jempol ke atas..
langit bara lazuardi 0 0
Titiw : diulang dong,. hehehe... biar bisa jadi diskusi.
ibhe 0 0
Titiw : tambahin 2 lagi = enam jempol keatas!
langit bara lazuardi 0 0
ibhe: yang dua jempol itu ngambil dari mana? minjem jempol temen ya? hihihihihi
ibhe 0 0
jempolnya Titiw : : D
sehat 0 0
gw setuju.... : ) ada temen gw yang nulis diblognya http://tinyurl.com/ycxrw6s

Silahkan login untuk memberikan pendapat