Pasha dan Prasangka Keartisan 16

Senin, 21 Des '09 16:08

"Jika mungkin, saya ingin mencari kekasih dari kalangan orang biasa. Artis atau anak band membuat saya takut," kata Aura Kasih.

Orang biasa. Kata itu jadi populer kini, untuk mendikotonomikan antara mereka yang aktris dan bukan. Dan tiap kali seorang aktris berkekasih "orang biasa", infotainmen pun ramai menggunjingkannya. Seakan, orang biasa itu jadi aneh, sesuatu yang unik, tak biasa, dan mungkin, akan gagap dalam interaksi dengan pasangannya. Bahkan, dalam beberapa infotainmen, frasa "orang biasa" itu diucapkan dengan sedikit nada cemooh. Dengan kata lain, jika di luar aktris adalah "orang biasa" maka mereka yang aktris pasti masuk dalam kategori "luar biasa".

Tapi, "luar biasa" dalam hal apa?

Ya, kita ingat klan Azhari. Untuk prestasi pamer tubuh mereka memang luar biasa. Skandal seks apalagi, tiap tahun nyaris ada. Atau Roy Marten, yang dua kali tersangkut kasus sama, kasus narkoba? Atau mungkin kisah semacam Krisdayanti, yang sudah memermak tubuhnya di sana-sini untuk tampil dalam kecantikan yang abadi?

Luar biasa, dengan demikian, hanya mengandung pengertian tentang mereka yang mampu melakukan hal-hal yang tidak umum dilakukan khalayak. Bukan saja karena mereka punya keberanian, melainkan memiliki kuasa uang. Dan yang utama, predikat untuk "tampil berbeda". Luar biasa menegaskan tentang sesuatu yang dapat mereka lakukan dan tetap dianggap pantas.

Juga tentu, menyangkut moralitas.

Masalahnya adalah, tidak semua mereka yang "luar biasa" itu dapat digolongkan dalam "kelas" yang sama. Keluarbiasaan mereka terkadang dicitrakan dengan moralitas yang "bebas-dosa." Kita ingat bagaimana Pasha Ungu begitu disorot media setelah sukses album religinya. Bersama Enda, Pasha bercerita bagaimana sisi spiritual mereka, ilham lagu yang demikian kuat, datang seperti kilat, lebih sebagai titipan ilahiah. Dan praktis, busana mereka pun mengikuti. Pasha jadi berpeci, berbaju koko, dan tiba-tiba menjadi sahabat dekat ustad gaul Jefri al-Buchori. Pasha, tiba-tiba, di mata kita, menjadi ikon anak muda yang amat kenal agama dan takwa.

Lalu muncul juga Marshanda. Aktris ini memang punya banyak pemuja setelah sukses berperan dalam sinetron "Bidadari". Wajahnya yang belum jauh dari remaja dan terlihat polos, selalu menimbulkan rasa sayang setiap melihatnya. Tingkahnya yang sopan, berbicara nyaris tanpa teriakan, dan tak pernah terkena gosip murahan, membuat Cacha terbentengi dari "prasangka keartisannya".

Prasangka keartisan adalah sejenis praduga bahwa sebaik apa pun seorang aktris tampil di media, penonton selalu percaya bahwa mereka memiliki sisi nakal yang tak ditampakkan. Nah, Marshanda bebas dari itu. Pertumbuhannya dari penyanyi remaja sampai kini dewasa, terjaga dengan ketat. Ada selalu ibu di dalam setiap langkahnya. Marshanda pun menjadi contoh sempurna aktris remaja. Dia seakan menjadi protagonis Sheila Marcia.

Tapi tampaknya, stigma itu mewujud juga.

Pasha, tiba-tiba terbukti sangat tempramental, dan suka main tangan. Okie Agustina yang mendampinginya dari mulai "bebek" sampai dia menjelma "angsa" pun angkat tangan, menyerah, mengembalikan rumah tangganya ke pengadilan: bercerai. Bahkan, setelah perceraian pun, Pasha masih menghadiahkan kekerasan kepada istrinya. "Tempramental. Dia suka memukul saya di depan anak-anak, dan juga memukul anak-anak," terang Okie.

Marshanda sebaliknya, mulutnya yang biasa melantunkan nada lembut dan asma Ilahiah, tiba-tiba tersebar di youtube dengan sumpah-serapah. Tak ada lagi kendali. Pasha dan Cacha, juga kini Luna Maya, telah muncul sebagai tawanan amarah. Mereka tak ubahnya sosok "orang biasa" yang jika emosi dan dalam tekanan jiwa, melakukan tindakan yang terkadang tak pernah dipikirkan. Lalu, semua terpana. Tak mengira, bahwa pribadi yang demikian terjaga dan menjadi sandera citra, dapat juga terlempar dalam laku "orang biasa".

Lalu, di mana beda tegas antara aktis -yang mengklain sebagai luar biasa- dan kita-kita yang diklain media sebagai kaum biasa? Satu saja. Jika berbuat salah, kita mengakuinya dan berusaha tak mengulanginya. Sementara mereka, para sandera citra itu, tak pernah merasa salah, tak pernah mencoba memperbaikinya. Tak heran, kita sering mendapatkan mereka terjerembab, berkali-kali, di dalam kesalahan yang sama. Betapa luar biasa!

 


Tag: pasha, entahlah, luna

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Mas lazuardi.. tiap tulisan anda kok selalu membuat saya berpikir ya.. : D
langit bara lazuardi 0 0
Titiw : maaf ya mbak kalau membuat bingung. kali lain lebih jelas deh, janji.
fadex 0 0
again... tulisan dari 'Langit' selalu membawa perenungan...

trims pencerahannya...
langit bara lazuardi 0 0
thanks banget mas fadex, jadi bersemangat nih!
fairyteeth 0 0
hai ganteng... ; )) *dadah2 ke pasha*

artis mau pun bukan juga manusia biasa...
soal salah atau tidak dan soal tersandung oleh kesalahan yang sama berkali2 manusia biasa lain juga bisa melakukannya, tapi siapa kita??

bukan siapa2?? jadi mau melakukan kesalahan yg sama sampe 100 kali pun, ndak ada yg tau, ndak ada yg meliput, ndak ada yg peduli... : D

semua cuman manusia kok... aku, kamu, mereka semua sama...

*lha aku ngoceh apa iniii??*

maap lagi kumat, obatnya abis... ; )) piss...
langit bara lazuardi 0 0
fairyteeth: iya, semua manusia biasa. justru itu pertanyaannya, mengapa infotainmen memandang sinis pada kita yang non-artis. seakan, dan ini dinormakan bahwa menjadi artis berarti memiliki "kekebalan" tertentu.

tapi harus diakui juga, menjadi artis adalah memiliki akses untuk banyak hal yang tak bisa dilakukan orang biasa. misalnya, membantu kampanye koin untuk prita. sayangnya, sayangnya lagi, frasa "bukan orang biasa" itu justru bukan untuk hal-hal semacam itu.
sofie 0 0
sandera citra, saya suka kata-kata ini. mereka mungkin terperangkap dan terus susah keluar dari jaringnya. hal yang sama juga terjadi yang disebut 'biasa' tadi , cuman mereka gak terperangkap citra. yang biasa berlomba-lomba mengejar citra itu tadi. : D
deadeye doll 0 0
sofie: sama. 2 kata yg keren untuk jd judul lagu : D
maaf oot! saya kasih jempol aja ya bang
Chika 0 0
tulisan ini keren banget! benar-benar mewakili keadaan saat ini. makasih atas tulisannya. : )
maharrani 0 0
Titiw : hihihihi iya benerrr musti mempersiapkan diri dulu gitu bacanya. tapi tulisannya bagush *jempol*

langit bara lazuardi: kl menurutku malah nggak gitu. infotainment nggak memandang sinis ah sama yg bukan artis, mereka nggak mandang.

dan itu wajar sih menurutku karena kita kan bukan public figure : D
langit bara lazuardi 0 0
sofie: benar. semua orang memang menciptakan dan menjaga citra, disadari atau pun tidak. bedanya, kita --yang biasa ini-- tidak menjadikan citra sebagai ladang mencari nafkah. citraan kita lebih sering tampil, mengudar, secara alamiah, tanpa rekayasa, atau campurtangan "branding". karena "harga" yang harus dibayar pun berbeda.
langit bara lazuardi 0 0
deadeye doll: thanks bangget!

Chika: sama2, thanks sudah menyemangati.

maharrani: aku kok kurang suka dengan istilah public figure. ada kesan bahwa sebagai figur publik, artis dibebani sebuah "moralitas bertujuan", padahal itu tak akan bisa terjadi.

untuk kasus luna maya misalnya, ketua muhammadiyah juga mengatakan hal yang sama, agar luna, sebagai publik figur menjadi "pembawa pesan moral". kukira itu beban yang berlebihan. memberi aktris tujuan seperti itu sama saja meletakkan mereka sebagai sosok "luar biasa." padahal, kita tahu, apalagi maharrani, semua "jeroan" aktris.
Titiw 0 0
langit bara lazuardi: Hihihi.. bukan mikir yg berat2.. tapi membuat jadi berpikir.. seperti semacam koreksi diri gitu.. hehe.. : D
langit bara lazuardi 0 0
Titiw : ohh... jadi ngerti deh, hehehe...
adhigama 0 0
langit bara lazuardi: oh Langit Lauardi.. tulisan anda benar2 mantab!
langit bara lazuardi 0 0
adhigama: komentarnya pun mangstafff bangget. thanks ya

Silahkan login untuk memberikan pendapat