Untuk Neytiri, Grace dan Mama Yosefa 9
Sabtu, 19 Des '09 16:32
Meskipun sudah ada dua review tentang film Avatar, saya juga mau nulis lagi ah :D, bukan perkara film ini bagus animasinya (kalau ada lihat tweet-nya Joko Anwar, katanya sih ya animasinya film ini keren, terlebih kalau nontonnya 3D) atau karena ini besutan James Cameron sang sutradara Titanic. Tentu bukan itu wilayah saya :D
Sensasi nonton film ini tuh apa ya? ehm, mengoyak rasa sih yang jelas.Meskipun di sekitar 30 menit pertama saya bosen nontonnya, udah mau keluar aja itu dari bioskop, kebanyakan dialog, masalah belum terpetakan, dan pesan yang akan disampaikan belum ketangkep. Pesan mulai terbaca saat salah satu tim-nya Grace menuju Gunung Haleluya (maaf agaklupa, kalau salah kasi tahu ya).
Film ini 'nyata' sekali dan entahlah, mungkin James Cameron dan penulis skenarionya adalah feminis. Yang jelas peran perempuan dalam situasi konflik dan relasinya dengan lingkungan, jelas tergambar disini.Kalau di Indonesia, saya langsung kepikiran Mama Yosefa Alomang dari Papua, seorang pekerja kemanusiaan-aktivis perempuan dan lingkungan di Papua. Beliau, menurut saya adalah perpaduan karakter Grace dan Neytiri.
Tulisan ini mungkin akan beraroma perspektif saya seorang perempuan dalam 'merasakan' film kolosal macam Avatar ini :D. Pertama yang jadi perhatian saya, jelas, situasi konflik sumber daya alam antara indigenous people, pengusaha dan militer, aktor-aktor dalam konflik ini mengingatkan saya sama konflik Poso dan Ambon. Poso? Saya teringat tepatnya di Sulewana, Tentena yang akan dibangun PLTA tanpa menyertakan masyarakat lokal (perempuan) dalam proses pembangunannya, tentunya kerentanan perempuan (masyarakat lokal) ketika militer menjadi alat pengusaha.
Air di Sulewana, Gunung di Papua, Hutan di Kalimantan, Pohon di Avatar. Adalah ruh kehidupan yang tercerabut.
Posisi perempuan dalam film Avatar justru punya peran sentral daripada Jake Sully . Grace seorang ilmuwan (yang mengajarkan kita (atau mereka yang punya kuasa modal) alternatif pendekatan secara antropologis, etnografis ketika akan melakukan intervensi. Percayalah pendekatan kekerasan dan militer bukan jalan yang minim resiko ketika anda akan melakukan invasi. Pertimbangkan kearifan lokal dan bagaimana meminimalisir korban, karena masyarakat sipil yag jadi korban. Grace pula yang menurut saya membukakan 'mata' Jake Sully sang mantan marinir untuk memilih,mana yang harus diperjuangkan.
Neytiri, adalah symbol indigenous people yang taat pada bumi, menjaga keselarasan adalah bagian dari hidupnya dan kelompoknya. Keselarasan yang dinilai masyarakat modern hanya dari uang dan kekuasaan. Neytiri seperti Mama Yosefa dari Papua, yang menangis ketika gunungnya dikeruk oleh kegiatan pertambangan (gunung adalah 'Mama' bagi orang Papua). Sama seperti Neytiri yang menangis kesakitan saat pohon-nya (rumah pohon) dihancurkan oleh bom. Dan bagian ini sangat dramatis ketika saya nonton Avatar (karena saya nangis misek-misek, agak keras lagi), seperti klimaks dari film ini rasanya, meskipun perjuangan Avatar dan Na'vi masih berlanjut. Tapi symbol pohon yang jatuh itu seolah menggambarkan fakta bahwa manusia tidak hormat pada keselarasan alam.
Ehm, udah ah, sekian Avatar dari sudut pandang saya. Tulisan dengan perspektif perempuan dalam film Avatar ini dalam rangka Hari Ibu :D. Ibu dan Bumi-Keselarasan dan Anti Kekerasan.
gambar diunduh dari sini
Tag: Film, review, Perempuan, avatar, mamayosefa
Terkait:
-
BATTLESHIP: Manusia Versus Alien Di Laut
Kamis, 12 Apr '12 00:51 -
Histeris Dalam Film Hi5teria
Rabu, 11 Apr '12 18:04 -
Real Steel: Drama Tinju Robot
Senin, 31 Okt '11 01:31
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
fairyteeth: keren
-
neofreko: yoi banget
-
warm: yoi banget
-
Chika: yoi banget
-
maharrani: nggak ada matinya
-
Natalixia: keren
-
deadeye doll: keren
-
Titiw : yoi banget


Komentar:
ternyata pesan yang terkandung didalemnya menceriminkan keadaan saat ini...
[tanya] siapa mau nraktir saya nontoooonnn??
Tapi mungkin memang ada pesan yang hendak disampaikan film ini. Apalagi pemutarannya pas ada event di Copenhagen. Dialognya yang banyak sepertinya mengajak penonton untuk menghanyutkan diri dalam dunia Pandora.
Oh ya, planet Pandora ini dari luar kelihatan mirip banget sama bumi. Jadi mungkin ini cerita refleksi
oh ya soal pembangunan PLTA dan hutan kalimantan,
kampung saya memang sudah hancur
lho?!
eh, tapi serius deh. aku terpesona banget sama sosoknya si Neytiri.
lho kirain udah pada nonton
neofreko
pantesan bengong aja waktu aku nangis
warm
mgk film ini bisa dijadikan sebagai alat kampanye konservasi lingkungan yang mudah dicerna
Chika
ah, mbak chika, bisa lho dibahas satu persatu, apa mau dibikin bulan ini isinya review avatar semua? *nunggu timpukan boots*
maharrani
kalo aku sih SI JC leboh cocok jadi menbudpar atau menkominfo, lbh sesuai tupoksi. kalau meneg pemberdayaan perempuan, tupoksinya bukan bikin alat kampanye sih
*dibahas*
daku juga nangis pas pohonnya di bom.. anjrit, cuman demi kekayaan yg ada di bawah pohon tersebut, si manusia2 hina dina ini, berani2nya ngancurin rumah orang. catet RUMAH ORANG. secara itu pandora punya mereka, sedang manusia kan cuman "alien" nya. udah dateng tak diundang, serakah, ngambil hak milik org lain pulak.
pesan moral yang saya dapat setelah selesai menonton adalah:
Manusia adalah mahluk yang sekarah dan ndak pernah puas.
iya rumah orang 'diserobot' batu yang dicari di pandora itu harganya 20 milyar kan? dan itu harga yang gak sebanding dengan tercerabutnya pohon, terkoyaknya na'vi dan gangguan ekosistem. tp itu fakta lho di papua, di kalimantan, ambon, poso yang begitu itu ada
deadeye doll
Silahkan login untuk memberikan pendapat