Naysila Mirdad 7

Rabu, 9 Des '09 15:28

Agama, kini, memesona bukan untuk dijadikan pegangan, tuntunan, ibadah, melainkan sebagai bagian percakapan, gosip. Dan kita melihatnya hari-hari ini, dalam diri Naysila Mirdad. Dia salat Idul Adha, sebuah laku biasa. Tapi media memberinya syakwasangka: Naysila telah berpindah agama bukan karena yakin dan percaya, melainkan mengikutkan cinta.

Ada yang tak adil memang di sini. Naysila didudukkan media --terutama infotainmen-- bukan sebagai sosok yang dewasa, yang bisa mengikuti kata hati dan pikirannya, melainkan sebagai "korban", remaja yang jatuh cinta, dan menyerah....

Dude Herlino, teman mainnya dalam berbagai sinetron yang kebetulan dikenal penganut Islam yang taat, juga didudukkan sebagai terdakwa. Dude-lah yang ditengarai membelokkan keimanan Naysila karena tali asmara. Sehingga Nay harus menjelaskan juga bahwa, "Saya tidak dipengaruhi siapa pun, juga Dude."

Tapi tentu, bukan infotainmen jika mau percaya. Gosip, yang energinya bergerak dari <I>kronos to kronos</I>, "setelah ini lalu", mencoba mencari celah, mempercakapkan perpindahan keyakinan itu dengan nada salah. Nay, dianggap memberi ruang keseimbangan di dalam keluarganya. Maklum, dari empat anak Jamal dan Lidya, sebelumnya tiga memihak agama ibunya. Hanya Kenang yang ikut Jamal. Berpindahnya Naysila, memberi porsi adil dalam keluarga itu, tiga sama.

Agama akhirnya hanya dipandang sebagai angka, jumlah pengikut. Berpindahnya seseorang kepada keyakinan yang baru, dianggap kerugian bagi yang lain, dan keuntungan di pihak sana. Untunglah, Nay tidak merespon celah itu, dan menjawab dengan cara yang baik. "Kami selalu belajar, selalu menyerap agama mana pun, bukan hanya dua. Semua agama aku pelajari. Apa yang aku pilih, tidak perlu aku katakan kepada media. Yang kupilih sekarang telah lama aku pikirkan."

Jadi, bukan soal asmara. Tidak juga untuk menyeimbangkan posisi di keluarga.

Agama, bagi Nay, adalah ketergerakan hati. Bukan kalkulasi untung rugi, apalagi ikutan dari janji-janji syahwati.

Jamal mengakui hal itu. "Tugas saya membimbing anak-anak. Keyakinan itu sesuatu yang bagus. Tapi agama tak boleh dipaksa. Itu kesadaran, harus terus dicari, sesuai hati."

Agama, dengan demikian, adalah hal yang pribadi.

Pilihan hati.

Dan menyangkut pilihan, tak ada pihak lain di luar sana yang bisa meragukan, apalagi mempertanyakan.

Nay bebas.

Tapi nyatanya Nay tidak bebas.

Di kamera itu dia tampak gugup, harus menjelaskan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Diminta menceritakan keterpukauan hati, pada mereka yang hanya berharap mendapat sensasi. Nay hanya menggeleng, dan meminta tak dipaksa untuk bicara.

Sayang, Lidya terpancing media. Dengan wajah tegang, dia memang tak mau menjawab soal keyakinan Nay, tapi menjelaskan sesuatu yang ditunggu: keretakan itu. "Saya hanya berharap anak-anak itu kalau menikah dengan yang satu agama." Lidya, secara tersamar, bukan saja mengungkapkan bahwa cukuplah dia dan Jamal saja yang berbeda, tapi juga mengakui bahwa keberbedaan itu berbahaya. Barangkali, dia juga lelah mengelola perbedaan, dan setumpuk rasa gundah. Tak heran, jika Nay pun, secara hati-hati berkata tak ingin persoalan itu membuat salah satu dari keluarga besarnya terbawa-bawa.

Untung ada Jamal yang memang berusaha mendewasakan semua. Bahwa, "Keragaman itu bukan hal yang baru dalam keluarga saya. Keragaman itu mudah-mudahan tidak akan jadi pertentangan, tidak akan jadi masalah."

"Mudah-mudahan...." kata Jamal. Ada ketakyakinan di situ, juga ketakpastian.

Barangkali, Jamal melihat, ekspose media yang luar biasa membuat "perpindahan" Nay itu dipandang sebagai "syiar". Dan kita tahu, dalam tiap syiar, selalu terselip unsur merasa paling benar. Karena syiar selalu berkait dengan kepentingan sosial, ketika agama dihadirkan lebih sebagai selebrasi, perayaan jumlah, "testimoni mengapa engkau berpindah", dan bukan pada esensi: hati yang menemukan Ilahi, dalam khusuk, dalam rahasia.

Ketika masyarakat dan media menjadikan agama sebagai kebutuhan sosial dan dirayakan hanya sebagai identitas, dia menjadi pembeda yang benar dan salah, terkadang juga senjata. Memeluk agama dengan niat mendapat damai, tapi malah menerima resah. Nay telah mengalaminya....


Tag: nay, agama

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Eh.. kayaknya kemaren ada yg nulis ttg naysila mirdad juga ya.. siapa ya..? *celingak celinguk* cuma bedanya tulisan ini lebih mendalam dan ada emosi dimainkan di sini.. hihihi.. Btw buat langit bara lazuardi , fotonya dipajang dong biar lebih okeh.. : D
langit bara lazuardi 0 0
Titiw : lho, kan sudah dipajang di atas. Naysila lagi tertawa. mau pasang yagn seksi, ga berani, hehehe...
maharrani 0 0
Waw tulisannya indah sekali ya...
I like this part..
"Ketika masyarakat dan media menjadikan agama sebagai kebutuhan sosial dan dirayakan hanya sebagai identitas, dia menjadi pembeda yang benar dan salah, terkadang juga senjata."

langit bara lazuardi 0 0
maharrani: makasih....
fadex 0 0
sebuah renungan yang mendalam. keren tulisannya.

jadi yang salah infotainment lagi nih? hihihihihi
Chika 0 0
tulisan ini keren. mengupas dengan indah dari segala sudut pandang. : D
Titiw 0 0
langit bara lazuardi: Bukan mas.. maksudku foto situ yang dipajang.. biar kita lebih akrab gitu... Btw main2 ke postingan yang lain dooong.. : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat