Ponky Jikustik 2
Minggu, 6 Des '09 01:04
Kita tak tahu apa yang dipikirkan Krisyanto. Jamrud tengah populer. Lagu-lagunya merajai tangga musik di televisi. Dan dia memilih mundur. "Jenuh," katanya.
Tapi kita sulit percaya.
Tak ada yang berubah dari Jamrud. Musiknya, liriknya, dengan olahan Aziz Mangasi Siagian, tetap nakal, lugas, dan gampang didengar. Nada-nada riang yang tinggi masih akan asyik jika diteriakkan Krisyanto. Dan dia memilih mundur.
"Saya ingin istirahat. Saya merasa tak lagi bisa menikmati musik," ucapnya kala itu.
Istirahat katanya. Tapi Krisyanto tak pernah kembali. Kini, ada Donal sebagai pengganti, yang meski tak mampu berteriak segarang dan tinggi Krisyanto, tampaknya, tetap akan membuat Jamrud punya warna.
Kita juga tak tahu apa yang dipikirkan Pongky. Jikustik baru saja meluncurkan lagu "Selamat Malam", dan dia memilih mundur. "Jenuh," katanya.
Tapi kita makin sulit percaya.
Pongky bukan Krisyanto, yang hanya bernyanyi. Dalam Jikustik, dia adalah nyawa, pemberi napas band itu. Pongky pencipta lagu, pengaransemen, bahkan penentu ke arah mana warna musik grup itu. Benar ada Icha, tapi "kekuasaan" Icha belum sampai menggerus wibawanya. Dan dia mengaku jenuh.
"Jika dipaksakan terus untuk berada di dalamnya, saya tak akan bisa bernapas lagi. Saya minta berada di luar, mungkin selama dua tahun," katanya, dalam tayangan infotainmen dan juga ramai dikutip berbagai tabloid. "Tapi saya tetap mensupport teman-teman," tambahnya.
Dan kita tambah tak percaya. Karena Pongky kemudian tetap bernyanyi. Dia, bersama Aryo Wahab, Nugie, dan Baim, mendirikan The Dance Company. Dia juga mencipta, lagu yang berbeda warna dengan Jikustik, meski sangat seriang "Selamat Malam". Maka kita bertanya, jika benar Ponky jenuh dan ingin warna berbeda, sebagai penentu dia bisa mengubah warna musik, tak harus membentuk grup baru. Karena, "istrahat" yang dimaksud Pongky bukanlah tak bekerja, tapi berpindah kerja.
Krisyanto juga sama. Aziz misalnya, telah membujuk, dan menawarkan solusi. Tapi Krisyanto tetap tak mau kembali. Dia, seperti Pongky, merasa tak ada lagi energi untuk terus berada di dalam grup band itu.
Kita memang sulit percaya. Tapi itulah yang terjadi.
Pongky, juga Krisyanto, seakana menegaskan bahwa berubah bukanlah masalah yang sederhana, berniat dan terjadi. Berubah bukanlah persoalan diri, antara niatan dan tindakan. Berubah adala persoalan suasana, lingkungan, dan hasrat-hasrat yang melingkupinya. Krisyanto barangkali percaya, meski Aziz dan rekan lainnya siap mengakomodasi apa yang dia inginkan, tapi suasana kerja, lingkup kreatif, tak lagi membawa harapan. Bergaul dalam kesamaan yang lama akan menimbulkan permakluman. Berikutnya, permakzulan. Dan jalan buntu pun tiba di depan mata.
Pongky barangkali menyadari hal yang sama. Dia, sebagai penentu, memang bisa mengubah warna musik Jikustik, agar kejenuhan itu hilang. Tapi berapa lama. Kejenuhan itu hadir bukan karena warna musik yang sama, tapi juga energi-energi yagn dia terima dan dia lepaskan. Menjadi yang "kuasa" dalam waktu lama, bukan saja menumpukan kemampuan untuk melihat hal kecil, tapi memazalkan perasaan. Pongky ingin menjadi pisau, yang walaupun tetap tajam, tapi rindu batu asahan. Di Jukustik, asahan itu datang dalam "energi" kawula, hasrat teman, yang ogah ribut, dan mengedepankan permakluman. Pongky barangkali menyadari, dia hanya bisa berubah kalau keluar dari lingkuangan, dan berada di sebuah tempat yang membuat dia dapat "tersakiti", terbarukan.
Dia bertemu Nugie, Aryo, dan Baim, yang urakan, dan tidak memiliki kesamaan. Mereka sangat berbeda, merdeka, dan kemudian sepakat menjual keberbedaan itu dalam satu lingkup kesetaraan. Pongky menemukan energi.
Pongky tahu, kalau ingin berubah, dia harus meloncat. Dia harus keluar dari kemapanan yang dengan atau tanpa sadar dia ciptakan. Dia harus masuk belantara, membuka semak atau rimba, dan menentukan arah baru. Barangkali, dia berkata, "Di depan adalah harapan, bukan kemustahilan..."
Sayang, tak banyak yang seoptimis Pongky, tak banyak yang seberani Krisyanto....
Tag: pongky, artis, jikustik, entahlah
Terkait:
-
Syahrini dan Cobaan Itu
Kamis, 26 Mei '11 13:21 -
Anang dan Kemenangan Ingatan
Kamis, 12 Mei '11 17:26 -
Udin Tengu dan Gajah KPI
Rabu, 20 Apr '11 14:11
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sofie: keren
-
to Ra nt: yoi banget
-
fairyteeth: keren
-
Titiw : nggak ada matinya


Komentar:
makanya dia pilih keluar dan membentuk band baru.. lagian untuk mengubah warna musik dari band yg udah ada itu rada sulit, karena suatu band, apalagi kalo udah punya nama, udah punya basis fan, belom tentu senang kalo jenis musik band kesayangannya berubah... lebih aman bikin band baru emang.
band-band jepang, banyak yg memilih punya alter ego, apalagi untuk band yang telah berusia tahunan...
sebagai contoh L`Arc~en~Ciel, band yg dibentuk sejak tahun 91 dan beberapa kali ganti personil, semenjak mengeluarkan album the best nya, yg bahkan sampai 3 album sekaligus (2001) memilih untuk vakum dan masing2 personil solo karir (baik band baru ataupun solo) dengan berpisah untuk sementara waktu, bereksperimen dangan gaya baru, orang2 baru, jenis musik baru, mereka malah mendapatkan semangat baru ketika kembali dari vakum. dan itu terbukti dengan kembalinya mereka pada 2003 dengan album baru yang mengebrak sekali.
dan hal tersebut sekarang selalu mereka ulangi, album baru, konser album, vakum 1-2tahun, lalu mengeluarkan album baru... begitu selanjutnya.
hal tersebut agaknya malah berdampak baik bagi musik mereka...
mungkin ponky bermaksud sama?? kita doakan saja...
*duh komeng ku panjang sekali*
Silahkan login untuk memberikan pendapat