Yang Miskin Yang Konsumtif 4

Senin, 16 Nov '09 00:17

 

Reality show seperti yang pernah saya tulis dulu, tidak hanya aneh tapi juga mendidik menjadi konsumtif. Tilik saja, berbagai macam reality show yang menggambarkan masyarakat dengan kondisi terpinggirkan sebagai objeknya. Bukannya menggambarkan semangat malah menegaskan ketidakberdayaan. Beberapa tayangan  reality show yang coba saya perhatikan memiliki pola yang sama bagaimana menggambarkan kemiskinan.

Pertama, yang miskin selalu menderita. Menderita disini adalah ditayangkan gambar yang sedih, cerita menyayat hati , si objek yang menjadi cerita selalu bercerita tentang kesedihannya dan (hampir) menangis. Tetapi dengan bahasa yang sudah diatur. Atau jenis lainnya, gambar yang ditayangkan dengan nuansa miris dan suara narator yang hiperbol.

Kedua, yang miskin yang punya mimpi. Oke, setiap orang punya mimpi dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Itu hak semua orang. Sayangnya cerita skenario di reality show ini semuanya mimpi dan harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang serabutan untuk mendapatkan uang yang tak seberapa, demi tujuan yang relatife praktis.

Padahal kita tahu, mungkin kebutuhan si miskin bukan melulu soal uang, tapi juga akses pendidikan murah dan akses kesehatan gratis. Bukan sekedar bahagia yang mereka cari untuk kepentingan sesaat tapi demi anak cucu sehingga mereka tidak bernasib sama seperti mereka. Dan itu tidak hanya bisa diselesaikan dengan uang.

Ketiga, yang miskin yang konsumtif. Konsumtif dalam hal ini, setiap episode yang menceritakan tentang perjuangan, selalu berakhir di toko dengan membeli berbagai hal yang sifatnya praktis. Misalnya kipas angin, radio, karpet dan segala macamnya, padahal beberapa cerita pada awalnya menggambarkan kebutuhan tentang pengobatan, tapi ujung-ujungnya beli radio.

Ayolah, para pembuat skenario reality show, jangan-jangan kalian adalah bagian dari orang yang menjerumuskan si miskin ke jurang yang lebih miskin dengan cerita konsumtif macam itu. Jangan-jangan kelompok miskin tidak bermasalah dengan 'mencari' uang, karena mereka bisa bekerja serabutan misalnya, tapi mereka punya persoalan dengan mengelola uang dan hutang. Pernahkah terpikir wahai pembuat skenario reality show? Kalian kan bisa belajar dari para pembuat film dokumenter yang inspiratif.

gambar diunduh dari sini

 


Tag: realityshow, televisi, kemiskinan, konsumtif

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maharrani 0 0
Hmm..ada benernya sih sofie: . Tapi hukum kaya & miskin ini kayanya memang sudah begitu adanya ya.
Tapi bukan berarti ga bisa diubah jadi lebih baik.
Walaupun mungkin bakalan susaaaah banget.

Mungkin kaya gini,
Semua orang tahu poligami itu dulu dilakukan dengan motif membantu. Sekarang banyak yang salah kaprah.
Tapi tetep aja nggak ada yang berusaha mengembalikan itu ke makna aslinya. Huhuhu...
kakilangit 0 0
formula ratingnya masih seperti itu *skeptis*
njoups 0 0
biasanya sih begitu
eL-eL 0 0
Ng, soal membeli kebutuhan praktis itu... kemarin waktu melontarkan pendapat yang sama ada seorang teman yang bilang bahwa di acara itu ada semacam aturan yang melarang si penerima uang membeli sesuatu yang lebih bersifat investatif... cmiiw sih.

Silahkan login untuk memberikan pendapat