Jakarta Cuekin Band Bagus 3
Senin, 9 Nov '09 04:13
Kasihan sekaligus sangat hormat. Itulah yang saya berikan kepada Odessa, art rock dari Italia, yang empat kali berpetas di Jakarta. Kasihan, karena mereka tak ditonton banyak penikmat musik. Sangat hormat karena mereka sebisanya tetap profesional, meski dua panggung sepi penikmat.
Panggung pertama, di Atrium (East Mall) Grand Indonesia,Jakarta Pusat, saya ketahui tanpa sengaja, Sabtu malam lalu. Penontonnya sedikit, cuma likuran. Penonton yang berdiri di belakang pagar lantai atas juga sangat sedikit. Rock yang bertenaga memang kurang cocok untuk mal -- padahal musik mereka rapi dan unik. Ketika membawakan Highway Star, Child in Time (Depp Purple) dan Black Dog (Led Zeppelin) -- saya dengar tanpa menonton karena saya sedang mengudap -- mereka melakukan interpretasi yang menarik.
Panggung kedua sengaja saya datangi Ahad malam kemarin, di Salihara, Jakarta Selatan. Itu pun setelah menanya teman di Salihara. Jawabannya memang ada Odessa tapi bukan bagian dari acara resmi Salihara karena panitia hanya menyewa tempat. Penonton sekitar 30 orang. Dua baris bangku reservasi tak terisi.

Odessa di Salihara, Jakarta Selatan, Ahad 8 November. Sepi. Kurang promosi.

Odessa di Grand Indonesia, Sabtu 7 November. Sepi penonton. Salah tempat?
Dua panggung lainnya, karena ternyata menurut halaman Odessa di MySpace main empat kali? Saya tidak tahu. Padahal grup ini termasuk diperhitungkan. Apalagi mereka pernah mentas di arena progrock bereputasi macam BajaProg (Meksiko), ProgSud (Prancis), dan ProgFarm (Belanda). Grup Indonesia yang pernah mentas di Baja adalah Discus.
Keempat pemain rupanya harus atur taktik. Lorenzo Giovagnoli (kibor, vikal), Giulio Vampa (gitar), Valerio de Angelis (bas), dan Marco Pacassoni (drum) mengakrabi penonton dengan covers. Maka dibawakanlah beberapa lagu Deep Purple -- bahkan pada pembukaan pun langsung menggeber Perfect Stangers yang mengingatkan kita pada cara Dream Theater. Penutupnya adalah Burn. Lagu lainnya adalah Whole Lotta Love Zeppelin.
Lagu mereka sendiri, yang progrock, hanya beberapa yang dibawakan -- termasuk Compra yang berisi kritik. Ramuan mereka agak mengingatkan saya pada seniornya, PFM, progrock Italia yang dulu mengusung merek pabrik roti. Adapun sentuhan manisnya, pada beberapa karya, selintas seperti Ambrossia. Tapi cengkok vokal sang kibordis Gioagnoli sangat khas. Amat sangat. Rentang vokal dia dari rendah sekali (dilakukan sambil jongkok) hingga beberapa oktaf di atasnya.
Mereka interaktif. Sebisanya. Meski penonton sedikit. Saya menyayangkan promosi yang kurang gencar. Tontonan gratis, disposori Pusat Kebudayaan Italia, sebagai bagian dari Jak@rt 2009 dan Young in 60 Cities, ini kurang diketahui oleh publik Jakarta. Sayang sekali. Jangan-jangan kelak, misalnya lho, jika Pusat Kebudayaan Italia mendatangkan PFM juga dicuekin.
© Foto: curipandang.com
Tag: art rock, odessa, italia, jak rt
Terkait:
-
Bulan Madu Dian Sastro
Sabtu, 5 Jun '10 23:48 -
Produk Sukses Lain Dari NYC
Senin, 28 Sep '09 12:10 -
Badai Pasti Berlalu akan Muncul Lagi?
Rabu, 9 Sep '09 14:59
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maharrani: keren
-
Herman Saksono: jadi penasaran


Komentar:
Mungkin nggak, mereka nggak promo melalui sosial media.
Atau memang musiknya hanya menarik untuk kalangan umur tertentu?
coba digembar gembor di mana gitu..
mungkin jadi banyak yang nonton
Silahkan login untuk memberikan pendapat