Televisi Dimana Patriarki Ditanamkan (2) 4
Jumat, 30 Okt '09 01:36
Dapat inspirasi menulis dari hasil nonton Just Alvin edisi hari ini yang menghadirkan bintang tamu Mieke Amalia dan Tora Sudiro, ditambah dengan bumbu-bumbu nggosip di twitter dan sedikit diskusi (tsssaah, gaya!), dengan beberapa teman-teman, di twitter pula.
Just Alvin edisi hari ini cukup menyenangkan, karena Mieke dan Tora disandingkan dan diberondong dengan pertanyaan khas Alvin Adam, tak ketinggalan juga sorot kamera yang mendekati gerak dan bahasa tubuh masing-masing. Mulai dari cara duduk sampai mata dan kibasan rambut.
Tulisan ini tidak membahas hubungan percintaan si Mieke dan Tora, biarlah itu urusan mereka. Hubungan mereka cuma jadi salah satu kasus saja. Ehm, dalam wawancaranya di Just Alvin, keduanya mengakui bahwa mereka sedang bersama, kemudian muncul pula pernyataan cinta yang muncul di waktu yang tidak tepat. Sedikit cerita tentang perceraian keduanya, sampai mengaku keduanya saling cocok. Tora adalah Mieke, begitupun sebaliknya.
Tiba-tiba di twitter, seorang teman berkomentar tentang wawancara tersebut. Secara garis besar bahwa alasan apapun, se-ngeles apapun Mieke tentang hubungannya dengan Tora, Mieke Salah. Kenapa? Karena bodoh memilih laki-laki tidak berkualitas. Lalu apa Tora-nya salah? Dia salah, tapi teman saya tidak mau membahas karena laki-laki wajar melakukan hal yang tidak baik. Teman yang lain lagi juga mengatakan, tetap akan menyalahkan si perempuan. Alasannya laki-laki tergoda itu wajar. Jadi perempuan kalau menggoda itu salah?
Obrolan ini membawa saya dalam satu kenyataan bahwa konstruksi patriarki masih langgeng di media, televisi apalagi. Ruang-ruang gosip? terlebih lagi, apalagi hubungan percintaan. Kalau sudah cinta segitiga, segiempat, selingkuh, cerai, poligami yang salah siapa? Si perempuan. Kenapa salah? Ada yang dibilang bodoh, matre banget, tukang ganggu suami orang atau banyaklah sebutannya. Bagaimana pencitraan laki-laki? Dibilang wajar.
Dan pencitraan tersebut diulang-ulang dalam berbagai hubungan percintaan, kisah-kasih seleb. Sehingga yang lekat dalam benak penikmat televisi adalah perempuan salah itu dosa, laki-laki salah itu wajar. Benarkah itu yang kita inginkan? Saya tidak. Teman-teman boleh lho berkomentar :).
Ada satu bahan bacaan menarik, analisa dari Veven Wardhana tentang hubungan Halimah-Bambang-Mayang yang pernah dimuat di Kompas beberapa waktu lalu.
gambar diunduh dari sini
Tag: televisi, konstruksi patriarki
Terkait:
-
Mengenang Bu Bariah
Selasa, 13 Des '11 14:14 -
Musik Bagus di Banten TV
Rabu, 23 Nov '11 21:42 -
Tentang "On The Spot" & Program Serupa
Rabu, 21 Sep '11 19:43


Komentar:
Wajar Mieke -yang mengaku mengalami KDRT- mencari sosok mengayomi, yang bisa bikin dia ketawa.
Tapi kenapa pilih Tora, yang meninggalkan perempuan lain demi dia. Lha nanti kalo Tora ketemu perempuan baru lagi gimana hayo hayoooo....
kenapa mieke memilih tora? lha katanya tadi " Wajar Mieke -yang mengaku mengalami KDRT- mencari sosok mengayomi, yang bisa bikin dia ketawa." dan itu ditemukan pada diri Tora.
Kenapa Tora mau mengayomi mieke? coba pertanyaannya dibalik supaya kita tidak mudah terjebak dan berprasangka selalu kepada si perempuan?
pilihan-pilihan ada risiko juga, termasuk misalnya ketika si perempuan mungkin sudah sadar ketika orang yang dipilihnya mempunyai jejak yang 'kurang aman'
quote dari Mieke kemaren yg mgk jarang diperhatikan selain soal cinta adalah. perempuan itu harus survive, tidak bergantung ekonomi kpd pasangan. sehingga pas hal buruk datang di relasi antara perempuan dan laki-laki. si perempuannya bisa terus menjalani kehidupan. dan pernyataan itu kuanggap mencerminkan kesiapan mieke atas risiko diatas
Dalah satu senjata lelaki untuk mendominasi adalah ekonomi. Tapi ada "satu-dua" perempuan yang masih menjadikan kekuatan ekonomi lelaki sebagai "a must", bkn "a plus". Eh salah kamar ya, harusnya respon saya masuk ke Ngerumpi
Silahkan login untuk memberikan pendapat