Ruma Maida – Sebuah Film Tentang “His Story” 6
Kamis, 29 Okt '09 09:35
Saya bisa sangat subjektif bercerita tentang film ini. Pertama, karena saya sudah pernah baca script versi awal film ini, yang ternyata alurnya masih 90% sama dengan versi film Ruma Maida yang saya tonton premiere-nya semalam. Kedua, karena saya (dan tim kantor saya) yang mengadaptasi film ini menjadi game (bisa dicek di www.rumahmaidagame.com). Haha, saya juga yang membuat naskah versi game-nya, yang memang sebagian besar dialognya diadaptasi dari script yang sudah dibuat oleh Ayu Utami. Saat pembuatan game-nya pun, saya dan tim kantor saya sempat berkonsultasi baik dengan Ayu maupun dengan produser film ini, untuk mendapatkan bayangan lebih banyak tentang visualisasi karakter dan tempat.
Saat saya menonton film ini semalam, saya beberapa kali tersenyum melihat elemen-elemen properti yang dimunculkan pula di game. Dari biola, ruang kelas dengan manekin peraga, peta Indonesia, foto-foto, dll. Saya juga sempat tersenyum mendengarkan nama-nama tokoh film yang muncul pula di dalam game-nya, seperti si protagonis Maida dan Sakera (yang saling membenci lalu jatuh cinta), tokoh Kuan (yang menjadi semacam guru/penasehat bagi Maida dan Sakera), tokoh Dasaad dan Ratu (yang menjadi antagonis dan memberikan kejutan di akhir cerita), hingga trio Keroncong Kemerdekaan yang menjadi salah satu kunci cerita baik di film maupun game-nya.
Saya ingat pesan Ayu dulu, kalau cerita game tidak melulu harus persis dengan film, karena dikhawatirkan malah akan membocorkan twist cerita di akhir film. Nah, jadi tenang saja, yang sudah bermain game Ruma Maida dan mendekati bagian akhir cerita, Anda nggak akan mendapat bocoran cerita tentang filmnya. Akhir cerita film Ruma Maida ini memang memiliki kejutan tersendiri yang berbeda dengan versi gamen-ya.
Lalu bagaimana dengan film Ruma Maida sendiri? Meski saya sudah tahu gambaran cerita keseluruhan film ini, saya tetap tertarik menonton film ini. Nggak banyak film Indonesia yang mengangkat pelestarian budaya. Film ini mengingatkan kalau semua bangunan itu punya nilai sejarah. Ada baiknya kalau kita bisa tahu lebih banyak akan sejarah sebuah bangunan, dan membangunnya di atas sejarah itu, dan bukan malah menghancurkannya.
Alur cerita film ini sendiri mungkin akan sedikit sulit dipahami oleh anak-anak, karena alur flashback yang terus berganti dengan masa kini. Kisah film ini mencakup 3 titik utama tonggak sejarah negeri ini, dari era Sumpah Pemuda, era penjajahan Jepang, hingga Reformasi 1998. Saya sendiri sempat bergidik saat melihat adegan kerusuhan 1998, karena peristiwa itu masih cukup membekas di benak saya.
Hal menarik lainnya dari film ini adalah pengambilan adegan bangunan yang sama namun dari era yang berbeda di atas. Versi tahun 1998 saat bangunan sudah hancur dan menjadi tempat belajar mengajar Maida dan anak-anak jalanan, dan versi tahun 1945 saat bangunan masih apik dan Sukarno sering berada di sini untuk mendengarkan alunan kelompok Keroncong Pulau Tenggara. Setiap era pun ditampilkan dengan warna yang berbeda, sehingga mudah mencerna kapan cerita ini berupa flashback dan kapan cerita kembali ke masa kini.
Film ini juga mengangkat pesan kepedulian sosial dan pesan kalau masih banyak anak jalanan yang terlantar dan belum mendapatkan kesempatan sekolah yang sudah menjadi haknya. Di film ini Maida mencoba menjadi jembatan, dengan secara sukarela mengajar dan menanamkan pesan-pesan moral kepada anak-anak jalanan ini.
Satu-satunya yang menurut saya agak kurang adalah penampilan tokoh Sukarno dan tokoh lama lainnya yang tidak terlihat bertambah tua, saat muncul di tahun 1928 dan di tahun 1945, sehingga sempat membingungkan pembacaan masa kisah terjadinya kejadian yang diceritakan.
Jadi, kalau saya boleh memberikan peringkat, film ini berhak mendapat 7 dari 10 bintang. :D
Terkait:
-
The Raid: Atas Nama Cinta
Rabu, 28 Mar '12 08:55 -
Lakon Pada Suatu Ketika
Selasa, 13 Des '11 12:51 -
Belkibolang
Minggu, 23 Jan '11 01:04
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sofie: yoi banget
-
fairyteeth: jadi penasaran
-
maharrani: keren


Komentar:
ouwh history bukan herstory . eh seorang seleb, tapi bukan seleb tivi itu gamenya hadiahnya keren-keren yak! jadi pengen ....
mau nonton jadinya btw ni pelem sutradaranya sapa yak
mau nonton jadinya btw ni pelem sutradaranya sapa yak
sutradaranya teddy suryaatmadja
Silahkan login untuk memberikan pendapat