Televisi Dimana Patriarki Ditanamkan 4
Rabu, 23 Sep '09 11:23
Iseng-iseng mengamati televisi lokal di Jawa Timur, ada berbagai macam tayangan variatif dengan nilai-nilai lokal dan lebih beragam . Mulai kesenian lokal, pola tingkah sehari-hari warga yang tinggal dari belahan Jawa Timur . Menarik !.
Tapi ada yang nyangkut di perhatian saya, JTV menayangkan film kartun Mulan, tapi bukan versi Mulan Disney. Gambar kartunnya sangat sederhana dengan bahasa yang sederhana mudah dicerna, Mulan menggunakan kimono dan sedang memintal benang. Sementara si ibu menjahit sambil menjaga adik laki-laki Mulan. Disinilah percakapan dimulai:
"Mulan sepandai apapun dirimu , tetap saja kamu perempuan" , kata Ibu Mulan sambil menjahit baju silat si ayah.
"Ini semua gara-gara ayahmu dan temannya yang mengajarimu memanah, berlari, silat berkuda seperti laki-laki", lanjut si ibu.
" kamu tahu kan, Mulan, kodrat perempuan itu di rumah. Usiamu sudah 16 tahun dan sudah waktunya menikah", lanjut si Ibu.
Sementara saya yang nonton sudah gemas! Dengan deretan-dereretan narasi terjemahan yang patriarki dan salah kaprah itu. Di rumah bukan kodrat perempuan. Kodrat,adalah hal-hal yang bersifat biologis saja. Titik, bukan persoalan di rumah.
Saya cuma bisa berharap, penonton televisi lokal semakin kritis terhadap pergeseran -pergeseran nilai, termasuk patriarki yang sudah tidak relevan, jangan sampai banyak anak dinikahkan usia 16 tahun, gara-gara nonton film kartun.
Tag: media, televisi, kartun, patriarki
Terkait:
-
Bias Media, Wajah Kita
Senin, 5 Apr '10 15:42 -
Mengenang Bu Bariah
Selasa, 13 Des '11 14:14 -
Musik Bagus di Banten TV
Rabu, 23 Nov '11 21:42
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maharrani: yoi banget


Komentar:
IINM loh...
to Ra nt: ada benarnya juga. Si Ibu memang jadi seperti manas-manasin Mulan (sadar/nggak). Tapi yang lebih dikhawatirkan adalah nggak semua penonton mau mengeksplor point of view lain seperti mas Tora.
iya, aku pikir begitu juga, mulan memang bertujuan mendobrak itu secara keseluruhan filmnya, eng...yang aku soroti disini lebih pada kekritisan kita sebagai penonton. soalnya sapa tahu ni, jangan-jangan yang didenger malah bagian yang di quote diatas, terus terpatri spanjang masa *halah lebay*, eh tapi begitu maksud dari tulisan ini
maharrani
nah, betul miss, takutnya..khawatirnya...kalo penonton kita kurang kritis, apalagi tv lokal yang pasti penontonnya lebih khusus
deadeye doll
ehm, salah satu pe-er juga itu untuk meminimalisir interpretasi terhadap patriarki itu sendiri atau terhadap pesan yang akan disampaikan
Silahkan login untuk memberikan pendapat