Ketika Cinta (Transaksional) Bertasbih 2 10

Jumat, 18 Sep '09 08:34

Ketika Cinta Bertasbih 2 adalah sambungan dari Ketika Cinta Bertasbih 1. Hasilnya adalah bencana dalam dua seri.

Episode 2 ini melanjutkan cerita setelah tokoh utamanya, Azzam kembali dari kuliah di Al-Ahzar Mesir. Di Indonesia dia mulai ditekan untuk mencari istri. Repotnya, karena dalam dunia Azzam tidak mengenal pacaran, maka pernikahan adalah hubungan yang transaksional. Transaksional, karena peduli amat suka atau tidak, yang penting sarjana, punya kerja, dan muslim. Film ini membuka mata saya bahwa pernikahan model ini sangat rapuh karena tidak didasari oleh kecocokan emosional.

Parahnya, film berdurasi 2,5 jam ini isinya cuma episode-episode tentang Azzam mencari pasangan lewat jalur transaksional. Sebetulnya sih, model penuturan seperti ini bisa bagus banget. Film jawara seperti Billy Eliott dan Central Station misalnya, alur ceritanya juga lambat dan episodik. Tapi karena didukung oleh akting, pengarahan, dan sinematografi yang bagus; kedua film itu tidak membosankan, tapi justru menyentuh.

Ketika Cinta Bertasbih 2 memang tidak lebay dan gak penting seperti seri pertamanya. Tetapi akting pemainnya datar, pengarahannya tidak spesial, dan sinematografinya seperti sinetron. Maka, jika KCB 1 mendapat predikat "jelek banget", maka KCB 2 cukup mendapat predikat "jelek".


Tag: ketika cinta bertasbih, kcb, habiburahman el-shirazy

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

deadeye doll 0 0
kok tiap liat mbak2 berjilbab di poster film, yang muncul di kepala gw adalah "ASLI MESIR" ya...
maharrani 0 0
Gimana perasaan penulis novelnya ya. Ayat-Ayat Cinta laris manis, tapi yang ini kayanya buruk.. *belum nonton Ayat-Ayat Cinta sih. harus nggak??*
fadex 0 0
udah nonton kemarin pas pemutaran perdana. lumayan lah, gak gue bilang jelek2 amat. menghargai upaya sineas Indonesia yang mencoba bangkit dan memberi warna perfilman Indonesia. tapi ya itu masalahnya, gue gak nonton yang pertama. alasannya malas, dan tidak terlalu tertarik.
jadi rada bingung nonton yang kedua. hehehehe.

secara akting, sepertinya masih standar. film ini terlalu fokus pada tokoh azzam, sayangnya aktingnya terlalu standar. banyak adegan sedih yang seharusnya bisa membuat nangis penonton malah terasa hambar. karakter yang lain kurang dioptimalkan. alur cerita dan tokoh lain jadinya hanya melengkapi azzam doang,

kedua, alurnya terlalu cepat, karena menyesuaikan dengan cerita dari novelnya, kata orang yang sudah baca novelnya, banyak kisah yang dipotong, (masalah klasik film adaptasi novel).

terakhir, endingnya, dibuat happy, semua senang seperti lazimnya film hollywood. saat nonton dibalik pembuatannya yang tayang di RCTI sepertinya bagus, tapi hasilnya ,,,,

komentar ini bukan resensi looh, silakan aja dinikmati di bioskop.

catatan: alice norin centik juga pake jilbab, hehehe, cuma itu yang membuat berkesan, dan baru tahu nama tengah doi ada 'sofie' - nya.
roserevolver 1 suka | 0
Saya sepakat model pernikahan yang transaksional seperti ini sangat rapuh dan sangat robotik, tapi aneh saya tumbuh lahir dan besar di sistem "pernikahan yang transaksional", so keluarga besar saya nampak seperti 'baik-baik saja', oiya saya lahir dan tumbuh besar di kalangan yang sangat tradisional dalam beragama.

Tapi jujur kerap kali saya menemukan tindak tanduk/karakter yang aneh di kalangan keluarga saya, entah karena tertekan atau depresi, saya tak mengerti, yang jelas saya berusaha untuk menikah dengan cara yang lebih baik dan manusiawi, suatu saat nanti.Amin
belor say 0 0
resiko film yang mengekor...tapi bagaimanapun juga kita harus menghargai hasil karya bangsa sendiri (prihatin sambil mengelus dada)
aji aditya junior 0 0
saya termasuk bukan pemuja "KCB" karena dibuat dengan niat yang tidak baik, ingin menggeser ayat-ayat cinta- nya Hanung, saya bukan penggemar Hanung, apalagi Ayat-ayat cinta, tapi saya iikuti buku dan film tersebut.
Menurut saya, ayat-ayat cinta versi Hanung berhasil menutupi kekurangan bukunya, yaitu menjadikan karakter tidak hitam putih.
Karakter yang hitam putih ala sinetron di buku AAC membuat saya agak malas membaca buku tersebut,
nah, ketika mendengar KCB juga akan dibuat, dengan menagadaptasi 100 perseni bukunya, saya langsung pesimis, Chairul Umam akan menghasilkan film yang buruk.
And See....
BTW saya juga suka karya Chairul Umam, Ramadhan Ramona dan Titian Rambut Dibelah Tujuh adalah karya terbaik Chairul yang wajib tonton. Tapi tidak dengan KCB...
sari indah 0 0
saya termasuk orang yang pesimistis jika sebuah buku difilmkan. dan memang, hampir semua buku yang difilmkan mengecewakan. termasuk AAC, KCB, dan Da Vinci Code. Butuh seorang jenius nan brilian untuk membuat film adaptasi sukses secara komersil dan artistik.
adin 0 0
tapi ibu-ibu banyak yang suka eui. malahan rata-rata nontonnya bareng keluarga. hihihi..

*bukan penikmat KCB 1 & 2
chie 0 0
dari poster ama judulnya aja gak bikin pengen nonton =3
Herman Saksono 0 0
chie hahahahaha

Silahkan login untuk memberikan pendapat