Klasik, Jazz, Classic Rock, dan Pop. Radio Tua dan Radio Muda. 3
Senin, 14 Sep '09 08:01
Berapakah jumlah stasiun radio di Jakarta -- bukan Jabodetabek? Silakan Anda hitung di situs PRSSNI atau Wikipedia. Nggak telaten? Gampang. Apapun selera musik Anda, 20 preset stations pada tuner Anda takkan cukup.
Masing-masing stasiun punya segmen, itu benar. Seberapa bisa menghidupi pengelola dan awaknya, saya kurang tahu. Yang pasti, meski kotak radio sudah ber-FM, di Jakarta masih ada stasiun AM.
Yang pasti lagi, pasar terus berubah. Radio Sonora yang terkesan tua, dan sempat menjadi stasiun dengan spot mahal, dengan kesejahteraan karyawan yang melebihi "radio gaul", akhirnya toh mencoba memudakan diri. Rejuvenation.
Di tengah saling tiru -- dari traffic report sampai talk show -- muncullah Gen FM. Cukup fenomenal. Radionya Grup Mahaka ini berani melakukan yang beda: kalau pendengar mau, bisa saja sebuah lagu diputar lebih dari sekali dalam sehari. Gen FM muncul ketika musik pop Indonesia sudah jauh lebih beragam dan orang terbiasa dengan MP3 -- tak usah menyebut penyanyi dan judul lagu toh orang (mestinya) sudah tahu. Selain itu, tentu, program Salah Sambung, dan anchors sakti Kemal dan Ade.
Gen FM bisa mengelola "talk show dagang" dan adlips lebih enak. Khusus untuk kedua anchors sakti itu, mereka cerdas sekali: saling mengisi secara ringkas, tak menunggu antiklimaks, lalu langsung jreng... lagu.
Ada celah tapi belum tentu sexy
Apapun formulasi yang sukses selalu meninggalkan celah. Maka Miss Maharani pun mencatat nongolnya Jak FM.
Di luar itu adakah celah yang selalu terbuka? Ada. Stasiun dengan lagu-lagu daerah tertentu (Kayu Manis) tetap bertahan. Bahkan radio siaran Mandarin (Cakrawala) pun bisa hidup. Radio miskin lagu seperti Elshinta juga tetap hidup.
Tentu yang namanya celah tak berarti sexy untuk dimasuki. Untuk classic rock dan progressive rock, M97FM sudah membuktikan kegagalan. Segmen riel pendengarnya, usia 35-50, sudah tidak muda lagi, tapi ogah dibilang tua. Sementara sebagian generasi MTV, biarpun doyan rock, akan tersiksa mendengarkan National Health atau Mahavishnu Orchestra (abaikanlah genre: ini jazz atau rock?). Belum lagi lagu progrock berdurasi belasan hingga likuran menit. "Lagu keriting bikin capek kuping," keluh anak-anak muda.
Too old to rock n' roll but too young to die. Ini pasar yang sulit dirayu untuk mengubah konsumsi dan loyalitas terhadap brand tertentu -- padahal mereka punya daya beli. Tapi kalau diberi iklan suplemen kesehatan atau obat diabetis dan hipertensi mereka akan tersinggung. Ini berbeda dengan segmen Delta FM 99,1 MHz (dulunya radio dakwah PTDI) yang memang tahu diri sudah tua, maunya nostalgia dan bersenang-senang sewajarnya.
CNJ 99,9 FM? Meski dibentuk oleh perkawanan sejumlah orang mapan (pengacara), akhirnya toh menyerah juga. Hanya jazz, dan bukan hanya light jazz, dan dengan mengandalkan musik klasik, ternyata secara bisnis kurang sehat.
Artinya CNJ mengulangi riwayat Top FM Jakarta (milik Puspen Hankam, dioperasikan oleh swasta) yang dulu spesialis musik klasik dan semi klasik. Dia mati, pendengar menangis (termasuk kalangan ekspatriat). Tapi ya setelah itu sudah.
Radio muda dan personal branding penyiar
Celah musik klasik, new age, jazz, dan rock, masih ada. Tapi ya itu tadi, nggak sexy. Lantas yang sexy itu apa? Radio anak muda. Konsumennya masih menarik bagi pengiklan karena gampang dipengaruhi. Kalaupun belum bekerja toh bisa menodong orangtua. :D
Tantangan bagi stasiun anak muda adalah harus selalu muda. Ini mirip majalah remaja, tak mungkin ujung tombak yang bergaul dengan audiens diisi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu.
Radio anak muda juga lebih sexy dari sisi karier. Cuap-cuap bisa menjadi batu loncatan. Honor per jam boleh rendah, tapi tanggapan menjadi MC dan -- ini yang lebih penting -- menjadi host di acara TVjadi incaran. Digabung dengan internet, personal branding penyiar menjadi lebih kuat.
Personal branding? Baiklah kita belajar dari Sonora Jakarta, yang sekian lama gaya penyiarnya sama karena meniru seniornya. Pada suatu masa, mereka hampir generik. Hanya pendengar setia yang bisa membedakan.
Dengan personal branding, penyiar yang dalam lima tahun sudah menua (karena pendengaryang dulu SMP ternyata sudah jadi mahasiswa) bisa berpindah stasiun yang cocok. Oh bukan itu sebetulnya. Dengan personal branding yang kuat, penyiar maupun bekas penyiar lebih mudah pindah lahan yang baru sama sekali.
Panjang ya? Belum buka udah capek bacanya. Maaf... :))
Tag: Jazz, rock, classic rock, gen fm, jak fm, mahavishnu orchestra, national health, new age, sonora, cnj, m97 fm
Terkait:
-
Jak FM is Gen FM Wannabe?
Minggu, 13 Sep '09 08:59 -
Musim Nyamuk, Lagu Malaria Rp 4 Juta
Kamis, 10 Sep '09 03:05 -
Rockinland 2011
Rabu, 25 Mei '11 18:47


Komentar:
Seperti Lite FM yang terdengar KISS sekali. Walaupun memang satu grup..
kalo penyiar yang rejuvenate dgn pindah ke acara pagi2nya sebuah radio dgn segmen separuh usianya itu bagian dari upaya tampil seksi juga ya?
Silahkan login untuk memberikan pendapat