Kerajinan Tangan sejak Chrisye 1981 sampai RNRM 2009 7

Senin, 14 Sep '09 13:24

Adakah yang salah dengan teknologi digital? Tidak. Teknologi dikembangankan untuk mempermudah kehidupan manusia, dari bekerja sampai bersenang-senang.

Dalam penerapannya, kegiatan kerajinan tangan toh hanya tahap, dan selanjutnya diurus oleh teknologi sesuai konsep kreatornya. Duh mulai rumit nih.

Nggak rumit sih. Kita lihat saja Zsa Zsa Zsu dari Rock n' Roll Mafia itu. Termasuk dalam proses kreatifnya adalah membuat mosaik kancing! Ini workmanship yang tidak main-main. Diganggu balita aktif bisa bubar semua konfigurasi kancing. Tim Tromarama bisa stres.

Craftsmanship juga bisa dirujuk ke belakang. Zaman sekarang, jigsaw puzzle Chrisye (dan Yockie Suryo Prayogo yang hari ini ultah!) dalam Pantulan Cita itu bisa diselesaikan di komputer. Digital imaging siap merajang gambar. Tapi dulu, tahun 1981 (ya, 28 tahun yang lalu), belum ada Photoshop!

Sayang dalam versi CD tak ada kreditasi tim kreatif. Seingat saya sih dalam versi kaset dulu ada. Desain grafis oleh Gaury Nasution dan fotografi oleh Zoom (Firman Ichsan/Tara Sosrowardoyo) -- CMIIW ya... Tapi siapa pembuat jigsaw puzzle, seingat saya, tak pernah disebut.

Di luar dua itu, kira-kira apa ya konsep visual musisi Indonesia yang menuntut pekerjaan manual yang tak rampung dalam sejam? Anda ingat

 

Sekadar catatan, Chicago versi lawas termasuk peduli dalam craftmanship. Sampul piringan hitam Chicago VI (1973) dicetak di atas kertas khusus oleh pencetak uang semacam Peruri -- teknologi cetaknya bukan offset biasa. Adapun sampul Chicago X (1976) menggunakan cokelat dengan kertas perak terkuak. Zaman sekarang, itu bisa diselesaikan di komputer. :)

Lho bukannya cokelat cuma butuh cetak tuang? Iya, tapi bikin edisi terbatas untuk difoto itu mahal. Pembuatan moulding, bukan adonan cokelatnya, itu yang mahal. :D


Tag: chrisye, yockie suryo prayogo, RNRM, chicago

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

deadeye doll 1 suka | 0
mungkin cd2 indo sekarang lebih baik kalo mengharuskan pencantuman nama desainer sleeve ya.
biar ketauan siapa yang CVnya jelek : p
Bang Mas Paman 0 0
deadeye doll: Umumnya sih sudah. Yang menyedihkan, ketika versi kaset di-CD-kan, krediatasinya kadang tak komplet. Pihak label malas melakukannya. Tapi dengan adanya internet, mestinya info itu bisa terselamatkan.
deadeye doll 1 suka | 0
Aneh, padahal space credit jauh lbh banyak di CD kan..
trus pertanyaan lanjutannya website label nasional yang bagus, informatif dan terupdate itu apa ya?
kayanya orang2 promonya pun lebih aktif woro2 rilisan baru di milis2 daripada ngasih info lengkap mengenai tim kreatif yang ikut ngegarap albumnya (kalo emang ada itu juga)
Bang Mas Paman 0 0
deadeye doll: .... tapi manajemen si artis mestinya juga ngotot memperjuangkan kreditasi kan? masa kayak zaman dulu, tanpa approval, sampai-sampai lirk pun banyak yang salah ketik (dan salah ejaan) : D
deadeye doll 0 0
Bang Mas Paman: berarti manajemen artis ga nganggep tim kreatif sebagai bagian dari paket sang artis ya?
Wih, yang salah ketik/ejaan itu kaya punya siapa Paman?
vespa guzzi 0 0
Tim tua mau nyumbang info nih:

Bagi perancang sampul kaset (kan, tim tua, jadi referensiya 'kaset'?), absennya credit2an memang menjadi masalah/ titik api pertikaian dari dulu.

Biasanya, letak kesalahannya 'plek2' adalah pada produser musiknya. Memang peran si pekerja/ perancang 'bungkusan musik' cenderung disepelekan, kecuali pihak perancang/ fotografer dsb. ngotot dan juga mendapat dukungan dari artis/ penyanyinya yang terlibat.

Celakanya, hanya segelintir dari pekerja kreatif pada masa itu bersedia ngotot-- biasanya karena takut periuk nasinya dioper ke orang lain, atau pada dasarnya sungkan dan tidak sadar akan hak2nya sebagai pencipta.

Tapi se-ngotot2nya si perancang-fotografer, kalau si penyanyi belum ketahuan bisa membawa keuntungan (bagi produser), jangan harap deh bisa menang..

Oh, satu lagi: mengenai kaset Pantulan Cita Chrisye: photo dan art direction dikerjakan oleh Zoom (Tara+Firman), dan pembuatan jigsaw puzzlenya adalah hasil 'kerajinan tangan' Sdr. Ayiek Soegeng. Ayiek merupakan salah satu pekerja dibalik panggung yang mempunyai sumbangsih luar biasa pada zaman itu-- khususnya dalam peran dia dibagian artistik panggung pergelaran2 Guruh Sukarnoputra / Swara Mahardhika.

Tks.



Bang Mas Paman 0 0
vespa guzzi: Terima kasihhhhhhhhhh. Oh bikinan Ayik Soegeng to? Iya itu pekerja kreatif zaman lama, seangkatan Temmy Lesanpura dan... Sys NS : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat