Media Oh Media 12
Rabu, 9 Sep '09 01:02
Betapa shock-nya saya ketika melihat tayangan infotainment yang menayangkan wawancara dengan Titania Aurelia Hermansyah (putri pertama pasangan Anang dan KD) yang mengumbar mengenai perselisihan orang tuanya. Saya kaget bukan karena melihat kenyataan bahwa selebriti yang terhitung adem ayem itu akan bercerai, melainkan wawancara dengan anak dibawah umur yang dipublikasikan oleh infotainment. Setau saya (kebetulan saya pernah bekerja di salah satu group yang memproduksi beberapa tayangan infotainment) bahwa wawancara dengan anak dibawah umur itu tidak diperbolehkan, apalagi dipublikasikan. Masih jelas dalam ingatan saya, bahwa pimpinan kami sangat marah besar ketika ada seorang wartawan dari group kami mewawancara seorang anak pasangan selebritis yang masih dibawah umur (saya lupa siapa tepatnya) mengenai perceraian orang tuanya. Dan alhasil wartawan dan produser tayangan-nya pun mendapat 'kuliah' panjang lebar oleh pimpinan kami.
Hari ini saya dikejutkan kembali oleh pemberitaan mengenai Sheila Marcia. Konon Sheila Marcia akan dijemput paksa oleh pihak Kejaksaan Negeri yang menang banding di tingkat Mahkamah Agung atas putusan Kejaksaan Tinggi yang mem-vonis Sheila dengan hukuman 7 (tujuh) bulan penjara. Sheila pun harus menjalani sisa hukuman (5 bulan) yang dijatuhkan oleh Kejaksaan Negeri yaitu selama 1 (satu) tahun penjara. Sekali lagi yang menjadi kekagetan saya bukannya melihat kenyataan artis muda yang sedang naik daun ini kembali masuk bui, melainkan penjemputan paksa oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Utara ini yang diikuti oleh salah satu tayangan infotainment secara eksklusif. Melihat kenyataan bahwa petugas Kejaksaan 'mengijinkan' infotainment meliput penjemputan paksa tersebut, dengan jelas tayangan ini mempublikasikan bagaimana kondisi Sheila pada saat dijemput paksa dan dibawa ke Kejaksaan di Denpasar, bahkan kamera infotainment itu mengikuti perjalanan Sheila dan petugas Kejaksaan di dalam pesawat pada saat terbang dari Bali menuju Jakarta. Yang menjadi pertanyaan saya adalah dimanakah hati nurani pihak yang mempublikasikan ini? Saya rasa, Sheila Marcia cukup shock melihat kenyataan bahwa dia harus menyelesaikan sisa hukumannya, apakah mungkin pihak Sheila yang mengijinkan infotainment mengikutinya? Atau bahkan pihak Kejaksaan yang telah mengijinkan infotainment untuk merekam detik-detik penjemputan paksa ini? Alangkah ironisnya kalau memang yang terakhir ini benar, karena ternyata sebuah lembaga hukum di negara ini membutuhkan eksistensi di media seperti tidak mau kalah dengan selebritis yang selalu disorot media.
Tag: selebritis, media
Terkait:
-
MTV Teen Mom Cocok Dibuat Versi Indonesianya Gak Sih?
Sabtu, 17 Apr '10 02:05 -
Bias Media, Wajah Kita
Senin, 5 Apr '10 15:42 -
Pernikahan Selebritis Tidak Awet?
Jumat, 19 Mar '10 06:32


Komentar:
Alasan pembenar media selama ini adalah... mewakili keingintahuan publik. Persoalannya, rasa ingin tahu publik itu sudah ada lalu dipenuhi oleh media, atau justru dibentuk oleh media
Kalau mau eksklusif ya usaha sendiri, jangan cs-an sama polisi.
jadi sebenarnya wartawan infotainment bisa dikenai sanski jurnalistik?
venus: Padahal yakin deh sebenernya mereka juga tahu apa yang mereka lakukan itu nggak baik. Tapi naif lawan rating ya kalah lah...
yusro: iya saya pikir jg begitu..seperti apa kata Ndoro Kakung: sanksi seharusnya ada. tapi lihat lah sampai sekarang adem ayem aja tuh kayanya
"hansmiller wrote on Sep 9
Kode etik Jurnalistik dengan tegas melarang wawancara anak di bawah umur, apalagi membicarakan masalah perselisihan kedua orangtua mereka. Jadi, tv yang menayangkan wawancara itu, SALAH! Reporter yang mewawancara, BEGO! Produser yang meloloskan hasil wawancara: DUNGU! Kejaksaan yang mengajak infotainment menjemput Sheila, banci tampil dengan mengorbankan orang"
Dari kutipan tersebut jelas bahwa yang selama ini ditayangkan sangat bertentangan dengan peraturan yang sudah ada, masalahnya disini adalah tidak diterapkannya sanksi bagi pihak yang melakukan pelanggaran tersebut. Alasan lain dari pihak production house atau stasiun TV disebutkan bahwa masyarakat menyukai tayangan yang seperti ini. Saya hanya bisa bisa berharap supaya kedepannya para pem-produksi tayangan infotainment lebih memperhatikan kode etik jurnalistik, mungkin memang public figure adalah orang yang disorot oleh media, tetapi cukup hanya mengetahui bagaimana kabar terbarunya (baik/buruk) seperti apa dan tidak perlu mencari-cari alasan yang sangat pribadi di balik itu, apalagi sampai melibatkan anak dibawah umur.
Saya juga berharap ada komentar dari pihak stasiun TV maupun rumah produksi yang memproduksi tayangan infotainment supaya diskusi ini tidak hanya searah, setuju?
Silahkan login untuk memberikan pendapat