Intermezzo: Lagoe Loetjoe Dobel Djadoel 18

Minggu, 6 Sep '09 11:22

Saya temukan lagu ciptaan Guruh ini di hard disk Ubuntu saya. Lagu itu masuk ke komputer saat penginstalan beberapa bulan lalu oleh Matt Zammy. Judulnya Nostalgia Hotel Des Indes*, bagian dari album Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra I, 1979!

Sekarang lagu ini menjadi semakin terasa arkais karena... memang lansiran 30 tahun lalu, sudah begitu ketika diedarkan (dan dipentaskan) pada 1979 lagu itu bercerita tentang romansa zaman kolonial. Coba dengar lagunya...


jayusman_-_nostalgia_hotel_des_indes.wma -

Pembawa lagu ini adalah Jayusman dan Trio Bebek (anggota Swara Maharddhika angkatan pertama?). Bahasa yang digunakan adalah Melayu campuran, mengingatkan kita kepada pers zaman penjajahan.

Tempo sore berbintang di atas kota
Ku pigi ka Hotel Des Indes
Di dalemnya ada suatu pesta ria
sayang aku datang sendirian...

Lantas si aku bersua seorang gadis:

Ku terpesona
tiada terkata
memandang seanteronya
kepingin tanya siapa namanya
[ ... ]
Di itu pesta Nona asyik berdansa
dengan dia punya boyfriend
Akhirnya aku pun tahu siapa dia
rupanya putri residen

Hasilnya adalah:

Aku tak mungkin mendapetkannya...
Nu ben Ik minder!
Ik ben een inlander!
Oh kapankah Oost Indie jadi merdeka?
Harapan orang pribumi...

Kalau tak salah, dalam koran acara yang dirancang oleh Hanny Kardinata, lagu itu ditulis dalam ejean lama: "j" non-Belanda ditulis "dj", dan "u" non-Belanda ditulis "oe". Maka djadilah lagoe loetjoe itoe...

Desain poster oleh Hanny Kardinata, 1979

*) Hotel Des Indes sudah dirubuhkan lalu digantikan oleh kompleks pertokoan Duta Merlin, Jalan Gajah Mada, Jakarta.


Tag: guruh soekarnoputra, jayusman, trio bebek, nostalgia hotel des indes

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sofie 0 0
meskipun saya masih kinyis-kinyis, entah kenapa saya seneng kalo dengerin lagu djadoel, kayaknya kok tentram gimana gitu : D
Bang Mas Paman 0 0
sofie: Ada masalah dalam diri Nona, barangkali? : D
sofie 0 0
Bang Mas Paman
huauauauuauaua *ngakak gulingguling* huwaaa, pamaaaann.... enggak ada masalah siy, cuma waktu kecil orangtua suka memperdengarkan lagu djadoel yang bukan jamanku, jadi mungkin nostalgila saja : ))
maharrani 0 0
sofie: wah kalo orangtua saya lagu djadoelnya genesis dan queen, juga pink floyd. kurang djadoel ya? anaknya malah seneng sinatra dan teman-temannya yang lebih djadoel : D
bonmw 0 0
Stamboel-nya Slamet Abdul Sjukur termasuk jadoel ga ya? Saya sempat secubit curi dengar waktu di Bandung dulu dan tak pernah lagi bisa menemukan CD atau kasetnya. Ada cuma Bujang Dara-nya Sam Saimun : D
Bang Mas Paman 0 0
maharrani: Wahahahahaha! Mana Chika, mana? Seru nih. Saya bisa mengapresiasi sebagian piringan hitam orangtua setelah saya dewasa (misalnya Nana Mouskori) : D Lha dulu, waktu SD, mau dengerin Grand Funk malah disodorin kaset Jim Reeves dan Andy Williams sama Ibu. : ))
Bang Mas Paman 0 0
bonmw: Sam Saimun? Set dah. BTW saya beruntung nemu CD P. Ramlee dibantng harganya. Kapan2 share di sini ah. : ))
Matt Zammy 0 0
aku suka banget ama lagu des indes ini. kalo dengerin, pikiran bisa melayang seperti berada di Old Batavia, dengan para sinyo dan nona yang berkeliaran..

huhuhuh..
Matt Zammy 0 0
Matt Zammy? hwakakakakaka.. nama penaku ganti ini, ah.. : D
Bang Mas Paman 0 0
Matt Zammy: Matriphe = Matthew (Arab & Persia = Matta). Zamroni = Zammy. Keren kan? : )
Matt Zammy 0 0
habis Googling, ternyata lagu ini 1975!

hhihih... seacara umum, lagu ini bercerita tentang kisah cinta seorang inlander (pribumi) yang naik becak ke Hotel Des Indes (sayang udah dirubuhkan) yang sedang berlangsung sebuah pesta. Di pesta itu, dia jatuh cinta kepada seorang nona Belanda putri residen. Cintanya ditolak, dan hal ini menyadarkan bahwa cintanya merupakan cinta "terlarang" karena perbedaan status.
Bang Mas Paman 0 0
Matt Zammy: Tahun 1975 Nak Matt Zammy blom lahir kan? : )
to Ra nt 0 0
Sebetulnya bahan asik untuk direcycle nih : )).
Bang Mas Paman 0 0
to Ra nt: Sebetulnya sudah lumrah jika rekaman lama dirilis ulang, kayak album-album Barat itu. Bahkan sampulnya pun tifak diganti, untuk memberi rasa "asli" : )
to Ra nt 0 0
Bang Mas Paman: Maksud saya, musiknya direfresh sama musisi muda kita. Aransemen ulang atau sekedar dicover aja, gitu.
Bang Mas Paman 0 0
to Ra nt: Sangat bisa. Badai Pasti Berlalu juga dibikin gitu kan? Yang dulu oleh Yockie Suryo Prayogo, kemudian oleh Erwin Gutawa.
Bang Mas Paman 0 0
to Ra nt: Nambah. Bukan per album juga ada kok. "Juwita Malam" (Ismail Marzuki) oleh Slank -- bagus banget. "Malaria" (Harry Roesli) oleh Kikan dan Erwin Gutawa.
to Ra nt 0 0
Berarti semoga makin banyak aja sih yang mau bermain seperti itu. Percaya atau nggak, ini meningkatkan apresiasi antar generasi loh, IMO.

Silahkan login untuk memberikan pendapat