The Final Destination: 3D - Movie Review 10

Sabtu, 5 Sep '09 12:12

The Final Destination, atau Final Destination 4 merupakan seri ke-empat dari franchise Final Destination & yang pertama kali dibuat dalam bentuk 3D. Film yang dirilis tanggal 28 Agustus 2009 (dan 4 September untuk Indonesia) disutradarai oleh David R. Ellis dengan naskah cerita yang ditulis oleh Eric Bress.

Tokoh utama kali ini bernama Nick (Bobby Campo). Ketika sedang menonton di arena balap mobil, tiba-tiba dia mendapatkan semacam mimpi atau penglihatan tentang kecelakaan yang akan terjadi di tempat itu; yang dimana membunuh dirinya, teman-temannya & sekitar 50 orang yang ada di situ juga. Panik & ketakutan, dia berhasil meyakinkan teman-temanya itu untuk keluar dari situ sebelum kecelakaan yang sebenarnya terjadi, dimana pada akhirnya dia berhasil menyelamakan dirinya sendiri, pacarnya Lori (Shantel VanSanten), best friendnya Lori, Janet (Haley Webb), dan pacarnya Janet sendiri, Hunt (Nick Zano), seorang security guard (Mykelti Williamson), serta beberapa orang lain lagi yang keberadaannya tidak cukup penting.

Seperti biasa, Kematian tidak akan berhenti sampai disitu, dia tidak akan rela kalau sampai harus dicurangi seperti itu, jadi dalam beberapa hari-bulan-tahun dia akan "memburu" para korban yang selamat, membuat semacam desain khusus untuk "mengambil" jiwa mereka sesuai dengan urutan kematian yang seharusnya terjadi, dengan cara-cara yang yang kreatif, aneh, tidak masuk akal, brutal dan atau paling "nyeleneh" sekalipun.

Secara keseluruhan, tidak ada hal yang baru dari film ini. Alur cerita sudah dapat ditebak dari awal serta rancangan kecelakaan-kecelakaan para tokoh-tokohnya yang good-looking-eye-candy dengan cara "nyeleneh" hasil karya sang Kematian, itu saja. Memang cukup ada sedikit twist di endingnya, tapi hal itu tidak menambah apa-apa.

Satu-satunya nilai tambah dari film ini adalah teknologi 3D Hampir semua adegan-adegan yang disajikan mengeksploitasi unsur-unsur 3D. Ada benda-benda yang terpental & terbang ke arah penonton, ban besar, bagian-bagian tubuh yang terlempar, semuanya terlihat cukup nyata & beberapa kali cukup membuat kaget penonton.

Berikut adalah beberapa hal yang cukup mengganggu ketika menonton film ini.

Satu, dari mana datangnya "penglihatan" Nick? Kenapa si tokoh utama ini terus-terusan mendapatkan penglihatan secara detail tentang semua orang yang selamat? Apa yang membuat dia begitu spesial sehingga diberikan penglihatan-penglihatan itu. Tidak ada penjelasan apapun & sepertinya tidak ada yang berpikir soal itu pula.

Dua, apa juga hubungan Nick dengan tokoh-tokoh utama di seri-seri sebelumnya? Tidak ada penjelasannya juga. Tidak biasanya "Death" memilih korban-korbannya secara random, pasti semua dimulai dari kutukan Flight 180 & akan saling berhubungan satu dengan yang lain.

Tiga, death scenes. Hampir semua adegan-adengan kematian sudah bisa dilihat di trailer film, tidak ada unsur kejutan lagi karena orang-orang sudah tahu bagaimana mereka akan mati. Selain itu, adegan kematiannya terkesan membosankan, tidak realistis karena banyak menggunakan CGI, walaupun dalam 3D, tapi tetap tidak bisa menyelamatkan ke-kurang-maksimal-an-nya. Memang, lebih "berdarah-darah-pake-usus-hati-ampela", dengan banyak daging-daging-dan-bagian-bagian-tubuh terlempar-tercecer-terpotong-potong kemana-mana, tapi malah terkesan "maksa".

Empat, akting yang buruk. Para pemain di film ini sepertinya dipilih berdasarkan bentuk fisik & paras wajah; sedangkan untuk aktingnya, itu urusan belakangan. Tidak ada satupun tokohnya yang memiliki kedalaman karakter & bisa meninggalkan sesuatu di pikiran penonton sampai di akhir film. Benar-benar terkesan tokoh-tokoh ini ada hanya untuk dibunuh dengan cara yang paling buruk dengan memanfaatkan teknologi 3D. Mungkin membunuh orang-orang yang eye-candy akan terasa lebih menyenangkan untuk dilihat. *???*

Intinya adalah, SCRIPT YANG BURUK & "MAKSA". Cukup.

Bagi yang menikmati seri pertama & seri tiga, yang merasa bahwa Final Destination adalah film horror yang cukup smart, jangan berharap banyak dari seri 4 ini. Yang bisa dijual hanyalah kecanggihan dari teknologi 3D-nya dan itupun tidak begitu maksimal. Kalaupun nanti akan ada seri ke-5, for the love of God, biarkan Glen Morgan & James Wong kembali! Di tangan mereka, seri pertama & ketiga jauh lebih baik bukan?

Selamat menonton & have a nice weekend. 

xoxo,

mister dison.


Tag: 3d, final destination, movie, movie review, pop culture

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Chika 0 0
jadi pengen nonton. pengen tahu seburuk apa film ini... : ))
maharrani 0 0
Astaga! Baru aja mau nulis tentang film ini.
Buat yang berencana nonton, mending uangnya disimpan untuk beli tiket film lain.
Film ini buruuuuuuk!
Setuju deh sama mr_dison : D
AndriaGutama 0 0
Jelek yh filmny???
Kecewa.....
mister_dison 0 0
Chika: @ Chika: Boleh lah ditonton, asal 3D ya. Kan memang pada dasarnya film ini memang khusus dibuat untuk dinikmati kecanggihan 3D & dolby sorround soundnya.

maharrani: Kudos to you too! Tapi, inget, kalau menikmati kecanggihan 3D & sound yg ok, boleh lah ditonton.

AndriaGutama: Kalo dari segi cerita sih buruk.
deadeye doll 0 0
mister_dison maharrani: dari 1 adalah paling buruk dan 10 adalah paling tidak buruk, nilai berapa yang diberikan?
karena oh saya sungguh tergoda setelah membaca rifyu ini fufufufu : D
mister_dison 0 0
deadeye doll: Gue kasih angka 3.5 deh, untuk 3D-nya & sound systemnya aja, lain dari itu, mehhhh.....buruk.
Cuma kalau mau menikmati saat2 penuh ketegangan, ketawa2, teriak2 ga jelas *kayak waktu nonton My Bloody Valentine*, rame2 sama temen2 ato pacar, boleh lah....
bolu kukus 0 0
buruk yaa....! ya udh g jadi nnton d bioskop deh.....mau beli bajakanya aja di mangga2, CUMA GOCENG PERKASET , ADA YG MAU NITIP
mister_dison 0 0
bolu kukus: yah, beli bajakan? ngapain, kualitas videonya kan masih jelek, mo ngapain, buang2 duit aja kali.
Chika 0 0
mesti di 3D ya? baiklah... *gak jadi nonton di XXI*
mister_dison 0 0
Chika: ga juga kok, tapi akan lebih baik kalo ditonton dalam 3D.

Silahkan login untuk memberikan pendapat