'Magma Perfilman Indonesia' 3
Jumat, 4 Sep '09 21:27
Suatu ketika, lelaki plontos berkacamata setebal daging kelapa itu berujar: "Saya hidup di dunia kelam, dekat dengan kejelataan, dan musik dangdut."
Penikmat 'musik rakyat' itu pernah diganjar penghargaan sebagai penulis skenario terbaik di Festival Film Asia 1972 dan mendapat piala The Golden Harvest lewat film Pemberang.
Kita mungkin kerap menonton film arahannya pada era orde kelam yang lalu di setiap pucuk September; film yang niscaya membuat tidur kanak seperti saya menjadi tak nyenyak, dan kebencian orang-orang terhadap suatu golongan menggumpal sepanjang hayat.
Pada zamannya, ia sering disebut sebagai sutradara termahal. Saya tak tahu betul. Yang saya aminkan, ia salah satu tokoh film yang disegani kala itu (bahkan mungkin namanya masih wangi hingga kini)
Maka sungguh amat wajar jika ucapannya seperti semacam tuah di dunia gambar bergerak. Pun ketika ia mentahbiskan seorang nona bermata selincah kenari sebagai 'magma perfilman Indonesia'.
Saya haqul yaqin Meriam Bellina, nona yang beruntung itu, sontak mendapat trance ketika mendengar pujian sang begawan. Siapa yang tidak? Mereka yang merasa dirinya berbakat pada masa itu pasti menunggu sang resi menembakkan sabda bagi mereka.
Kini, setidaknya sejauh ingatan memindai, saya tak pernah lagi mendengar kata-kata bernas keluar dari mulut para penggiat dunia hiburan, terutama film, tentang suatu peristiwa atau sesosok figur. Kata-kata yang membuat kita berkata 'anjis!' atau 'sedap!' ketika mendengarnya, seperti halnya pujian alm Arifin C Noer kepada Meriam Bellina itu.
Saya mungkin saja salah. Dan berharap dosanya tak terlalu besar. Atau memang ada komentar maha mentereng yang keluar dari mulut mereka yang alpa saya catat?
Tag: Film
Terkait:
-
Mockumentary Film: Modern Family
Rabu, 1 Feb '12 23:32 -
Masihkah Ia Sekuat Besi?
Senin, 23 Jan '12 22:08 -
The Real Mission Impossible
Sabtu, 24 Des '11 18:57


Komentar:
missmaharani: Kalau sekarang mungkin Mer semacam Guntur Persinetronan Indonesia, sebab ia cenderung untuk bengak-bengok
Silahkan login untuk memberikan pendapat