Lagu Kritis Mau Kemana? 14
Kamis, 3 Sep '09 13:21
Dengan tidak mundur terlalu jauh, kita sudah bisa melihat bahwa musik Indonesia (yang sempat digembar-gemborkan menjelang ajal) sebenarnya sudah mulai merangkak -bahkan melompat- ke tempat yang lebih baik. Namun seolah-olah semuanya hanya jadi bagian dari keseharian yang tidak perlu mendapat perhatian secara serius.
Bahwa televisi sudah membuat kita mati rasa pada tragedi (Koil - Hiburan Ringan part 1 & 2) dan berhasil membujuk kita percaya bahwa dengan menonton tayangan tertentu niscaya keimanan kita akan meningkat dalam kendali remote control di genggaman (Tika & the Dissidents - Pol Pot), semua habis dibakar rating tinggi. Atau mungkin teriakan yang secara eksplisit sudah ditujukan untuk membangkitkan semangat dan keberanian dalam menentukan pilihan (Efek Rumah Kaca - Mosi Tidak Percaya), digiring ke lapak-lapak kampanye oleh musisi yang notabene memiliki massa lebih banyak.
Band-band kecil (atau yang biasa disebut "indie") bermunculan dengan lirik berbahasa Indonesia yang, bila terlalu dini untuk disebut cantik, diupayakan tidak seperti lirik lagu milik musisi besar yang terlalu mengambang di permukaan. Masih ingat bagaimana The Upstairs menampar kecenderungan band-band untuk memaksakan diri menulis lirik berbahasa Inggris dengan diksi dan pemahaman makna yang terbatas? Sekarang penggemar puisi-puisi jalanan milik Jimi Multhazam -termasuk saya- harus berpuas diri menelan ludah saat mendengar lagu dengan satu kalimat berbahasa Inggris dari awal hingga akhir, sekumpulan kalimat mudah ditebak, dan selipan bahasa asing di bagian refrain.
Bila semuanya menjadi sah di depan wacana "kebebasan berekspresi" atau "bentuk kreasi", mengapa grup semacam Forgotten atau Homicide jadi bahan pembicaraan yang tabu?
Airplay kencang di radio, orasi di setiap panggung, pendekatan antar pribadi dan penyebaran ide lewat gambar dan tulisan, semuanya bisa hilang dalam sekejap digilas industri. Bila kalian musisi yang belum sama besar dengan Iwan Fals dan Slank, lagi-lagi kalian harus puas membicarakan masalah kehilangan kekasih dan sakit hati. Atau, tampil konyol dan membuang harga diri.
Foto diambil dari sini
Tag: tika, band, lagu, kritik, koil, homicide, forgotten, efek rumah kaca, the upstairs
Terkait:
-
Vampire yang nggak nyedot darah!
Jumat, 18 Des '09 02:23 -
Suede Rocks Our Saturday Night
Senin, 21 Mar '11 13:39 -
HOOT - Gadis Bond Rasa SoNyuh ShiDae
Jumat, 5 Nov '10 12:54


Komentar:
Terpinggirkan dari lingkungan dan membuat komunitas sendiri tampaknya memang sudah jadi pilihan musisi independen. Jangan takut sama Industri, karena biar bagaimanapun, gerakan akan tetap ada. Sebawah-tanah apapun.
pernah ngerasa eneg karena dicurhatin nonstop sama banyak orang sampe pengen nabokin orang2 yang curhat itu gak, Paman? dengerin lagu indonesia sekarang memberi hawa eneg itu
Kaya semua orang bikin warung bernama "Warung" dan punya anjing bernama "Anjing", dan kita harus melewati dialog seperti ini :
T: mau ke mana?
J: warung
T: warung mana?
J: itu lho..."warung"
T: oh.. warung toh.. kirain ke mana
atau seperti ini:
T: anjing lu mana? (sambil mengelus2 seekor anjing)
J: ini anjing (menunjuk anjing yang dielus)
T: mana? (masih gak ngeh)
J: ini.. yang ini anjing (sambil ikut ngelus anjing itu)
T: oh ini anjing... (sambil nerusin ngelus)
/kebiasaan ngangkot
Anjing? Walah anjing kampung tuh banyak yang bagus meski gak jelas silsilahnya.
kalo gamau makan anjing kintamani, ya ga usah makan. Karena kalo mau cari gado-gado yang gak pedes itu dia harus ngorbanin kaki kanan buat makanan mutan.
apakah gado-gado memang layak untuk ditukar dengan kaki? konsumen berpikir, dan konsumen pun menyayangi kakinya.
Embuh ah. BTW coba baca: http://tinyurl.com/maspamans
astaga.. untuk apa Paman memberi link Manowar?!
dan siapa bilang (semua)orang miskin dan penganggur ga punya akses untuk jadi cerdas dalam memiih musik?
*ceritanya pecinta data dan statistik*
*keukeuh*
Silahkan login untuk memberikan pendapat