Logo Musisi: Antara Perlu dan tak Perlu? 15
Rabu, 19 Agu '09 05:52
Logo Harley-Davidson itu hebat. Terlepas dari ledekan sirik bahwa itu motor untuk OKB dan orang sok macho yang sebelumnya bukan biker, nyatanya stiker itu ada di motor bebek lawas, Kijang bobrok, sampai SUV kinclong. Pemasangnya merasa aspirasinya (tepatnya: impiannya) terwakili.
Bagaimana dengan logo musisi? Kuat atau tidak logonya (tepatnya: brand-nya) itu terpulang ke masing-masing benak khalayaknya.
Logo klasik Yes bikinan Roger Dean (sebelum era komputer, dibikin awal 70-an), bagi saya itu termasuk logo yang kuat. Logo itu mewakili musisinya dan zamannya.
Meskipun sekarang jadi grupnya kakek-kakek, anak muda penggemar progrock (dan tentu classic rock) tak malu memakai kaos berlogo Yes. Sama seperti mereka memakai kaos berlogo Dream Theater dan Opeth.
Chicago? Namanya juga band tua. Untuk retro-rertroan bolehlah. Vintage-ria. Bagi saya, logotype Chicago awal 70-an itu termasuk kuat. Dulu Chicago mencetaknya pada chocolate bar untuk salah satu albumnya. Di zaman pra-Photoshop, itu jelas keren.
Adapun Ekseption, grup Belanda itu, memang kurang bergema. Hanya sedikit penggemarnya di Indonesia (termasuk saya hahaha). Tapi logo Ekseption (bukan logotype-nya) termasuk kuat di Indonesia karena... dipakai oleh Prambors!
Mulanya Prambors memakainya mentah-mentah, lantas logo wanita mendongak itu diganti menghadap ke depan. Prambors sempat meninggalkan logo itu selama beberapa tahun, kemudian akhir 90-an kembali ke hasil revisi terhadap logo Ekseption.

Itulah logo. Mungkin tak penting bagi artis, toh ada yang kayaknya ganti album ganti logo. Ada juga yang menganggapnya penting, apalagi ketika yang namanya band kian disadari sebagai brand, bukan sekadar nama. Di dalamnya ada pula merchandising...
Saya tak tahu sejak kapan musik Indonesia sadar logo. God Bless mungkin termasuk yang awal sadar itu, meski tak konsisten dipakai. Pada 1975/76 mereka memakai logotype rancangan Markus Djajadiningrat, yang waktu itu art director di majalah Eksekutif -- majalah termahal di Indonesia saat itu.
Giliran berikutnya adalah Keenan Nasution, 1978, dengan logo rancangan abangnya, Gaury Nasution, pemusik yang juga desainer grafis. Chrisye juga sempat memakai logo ciptaan Gaury.
Demikian seterusnya sehingga makin banyak musisi dan band punya logo maupun ikon. Ada Band sempat berganti logo, dan yang dipakai terus adalah yang terakhir. Slank termasuk kuat logonya, dengan stilisasi kupu-kupu yang rada bersemangat Generasi Bunga.
Adapun Dewa dan Repvblik Cinta Artist Management akhirnya sama: merefleksikan Ahmad Dhani yang bagi orang luar terkesan punya waham kebesaran diri (pelajarilah foto-foto resmi Dewa). Tapi dia, dalam bahasa Jawa, memang sembada sih.
Sedanfkan logotype Iwan Fals, yang berupa coretan tangan (mungkin ciptaan label dan desainer kaset, bukan manajemen Iwan), kadang dpakai kadang tidak.
Tak hanya pemusik yang sadar logo. Gepeng Srimulat dan Warkop Prambors (kemudian Warkop DKI) juga sadar laho. Hanya saja untk Gepeng, mungkin itu ulah indutsri rekaman yang membuatkan logotype huruf penyet dan Gepeng tinggal menerima.
Paling kemaki tentu Prince. Dia menyebut dirinya dalam sebuah ikon. Saya lupa, entah Time atau Newsweek pernah membuat berita kecil tentang Prince dengan memasukkan kunci maskulin itu ke dalam body text (awal 90-an).
Boleh tahu logo favorit Anda? Musisinya sih boleh Anda suka, boleh juga tidak.

Tag: logo, logotype, roger dean, yes, prambors, ekseption
Terkait:
-
Ada apakah di balik logo merk terkenal? (Just for laugh)
Jumat, 9 Sep '11 15:00 -
Stairway/Steinway to Heaven
Jumat, 4 Sep '09 14:53 -
Within Temptation sebelum Gempa
Rabu, 2 Sep '09 23:20
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maharrani: yoi banget
-
deadeye doll: keren
-
yusro: yoi banget
-
lontongsayur: yoi banget


Komentar:
ngomong-ngomong logo..memang sih ini penting-penting nggak kayanya buat band. dibilang penting karena itu juga salah satu bentuk representasi sebuah grup. dibilang nggak penting, tapi kok pernah sampai ada masalah. misalnya logo "Ungu" yang dituding melambangkan pemujaan setan (doh!).
personally, menurutku logo itu penting. harusnya dari logo, orang yang nggak kenal grup itu jadi bisa punya gambaran, kaya apa sih musik yang mereka mainin
tapi grup hebat macam Soneta Grup toh gak perlu lambang, soalnya udah diwakili sama ikon bang Rhoma
---
You wrote: tulisan paman memberikan pencerahan untuk angkatan ku sepertinya
logo band tu kan sebenernya cuma alat untuk memudahkan identifikasi aja, tapi dari situ si musisi bisa masukin imej yang dia pengenin.
misalnya sonic youth yang -seperti iwan fals- pake tulisan tangan buat dijadiin permanent font penulisan nama dia, bisa nunjukin betapa "lo-fi" isi musiknya. Tapi gada logo bukan berarti sulit diidentifikasi juga sih sebenernya. Dan yang terpenting, jangan maksa dan mengada-ada. Slank pun menemukan bentuk logonya sekarang setelah melewati perjalanan panjang kan
sejauh ini sih saya paling suka sama logo KISS, dan perwakilan dari era saya (peace, Paman
BTW itu logo kesayangan ya?
Lagian, itu kan satanic dalam perlambang lama Barat. Bertanduk, bertaringm bawa tombak trisula, dan berekor.
btw, indikator kesuksesan logo bukan hanya jumlah pemakai kaos lho Paman, tapi juga seberapa banyak spanduk dan bendera dengan logo tersebut yang berhasil diselundupkan ke dalam venue
Logo2 band yang menjadi perhatian saya :
- lidah melet-nya Rolling Stone
- The Starman-nya Rush
- AC DC
- Gambar bapak2 berkumis bernama Chuck Mulholland yang dipake sama Incubus (muncul di album EnjoyIncubus, S.C.I.E.N.C.E., dan Make Yourself)
Boleh minta pendapat tentang Musik2 tahun 78-79 macem "kehidupan", "Apatis", "Angin Malam" ga Bang Mas Paman, gimana kalo dibandingin Musik2 Indonesia Jaman sekarang..hehehe..
thanx before...
Tentang LCLR Prambors, ketika music directornya Yockie enak. Sekarang juga banyak yang bagus, studio latihan juga recording juga banyak. Bahwa yang sekarang diuntungkan oleh teknologi, itu emang udah waktunya.
Silahkan login untuk memberikan pendapat