Peliputan Jurnalis (dan Awak Infotainment) dalam Situasi Sulit 13

Jumat, 7 Agu '09 00:17

Anak Mbah Surip dikabarkan "mengamuk" sampai melemparkan botol minuman ke reporer. Pada kesempatan berikutnya dia minta maaf. Berita barusan, seorang anak Rendra menghalau reporter, "Papa belum mati. Tolong dong kasih privacy." Dulu, Yockie Suryo Prayogo mengeluhkan kelakuan reporer saat pemakaman Chrisye.

Jika menyangkut peliputan dunia bintang pesohor, maka tudingan pertama perilaku buruk diarahkan ke awak infotainment? Benarkah hanya mereka pelakunya? Saya tidak tahu karena tak punya data.

Tempo hari, seorang kawan yang pernah mengakrabi bisnis infotaiment bercerita kepada saya, ada awak infotainment yang mengejar-kejar artis untuk mendapatkan kutipan, bahkan sampai bilang (kira-kira begini), "Jawab dong! Kalo nggak dijawab, kita nggak makan nih."

Saya juga pernah membaca, seorang anggota keluarga artis membentak reporter, "Elu dibayar berapa sih sampe maksa gini?"

Dulu ketika ada heboh video Maria Eva dan seorang anggota DPR, terkabarkan bahwa reporter pun sampai eksesif ingin mewawancarai anak-anak si pria, bahkan pembantunya pun ditanyai. 

Kalau ditambah, kasusnya akan menjadi panjang. Persoalan kita adalah siapa yang mesti mengontrol para reporter di lapangan? 

Reporter selalu punya dalih bahwa kondisi lapangan dan kejaran tenggat memaksa mereka untuk gigih mendapatkan berita, sekaligus harus gigih memenangi kompetisi antarmedia (trafik untuk online, rating untuk TV, tiras untuk cetak). Bahwa kegigihan itu akan tampak memaksa dan ngoyo mungkin hanya ekses.

Perilaku itu akan menjadi soal peka tak hanya dalam akad atau resepsi pernikahan untuk kalangan terbatas, tetapi juga dalam situasi yang tak enak: kematian.

Jika bicara kontrol, tentu pertama-tama terletak pada setiap reporter, karena menyangkut cara (sikap dan perilaku). Selain itu tentunya kultur masing-masing media (redaksi). Kemudian pihak narasumber -- yang kadang memang tak siap dengan juru bicara dan koordinator pers. Bukankah kejadian buruk seringkali mendadak?

Hanya itu? Sejujurnya, sebagian masyarakat, sebagai konsumen info hiburan, tampaknya tak peduli proses kecuali dirugikan secara langsung.

Ada sikap mendua. Di satu sisi senang menikmati jepretan paparazzi, dan pembocoran foto maupun video privat entah oleh siapa, namun di sisi lain kadang menyayangkan cara perolehannya -- terutama kalau tahu.

Mungkin sikap mendua itu seperti voyerism: ingin tahu tabu sekaligus jengah. Tentu jengah yang saya maksud pengertian lama: malu terhadap diri sendiri karena melihat atau mendengar sesuatu yang kurang pantas.

 


Tag: Seleb, Mbah Surip, infotainment, rendra, chrisye, yockie suryo prayogo

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

deadeye doll 0 0
'jurnalis' ini kan emang spesialis mindahin hal2 privat ke ruang publik.
btw, org yg megang kamera/mic atas nama infotainment itu bisa disebut jurnalis ya?


yusro 0 0
Apa pun alasannya, seorang reporter juga mesti punya asaz kepantasan. Dengan begitu dia tidak akan mememaksakan kepentingannya tanpa mempertimbangkan perasaan dan kepentingan nara sumbernya. : )
maharrani 0 0
deadeye doll apa yang mereka lakukan sih serupa ya, cari informasi, wawancara narasumber, tapi gayanya aja yang kadang bikin artis judeg..hehe

bang mas paman tapi intinya sih ya "ingin tahu tabu sekaligus jengah" itu. kalo nggak ada sikap itu, nggak akan deh setiap stasiun tv punya minimal 2 program infotainment hehehe...

dan untuk semua selebritis saya sarankan menganut kepercayaan desy ratnasari untuk masalah pribadi. kalau no comment terus, lama-lama kan capek sendiri ;p
wiwikwae 0 0
saya pribadi, terkadang juga suka jengah melihat cara jurnalis infotainment itu dalam mengejar "buruan beritanya". Terlepas apakah mereka sudah menunggu berjam2, dan sedang kejar deadline.
deeda 0 0
Jadi, sebaiknya kerja awak infotainment itu yang benarnya seperti apa?
Chika 0 0
hahahaha makanya saya gak jadi ambil pekerjaan di salah satu tabloid gosip. dari lubuk hati yang paling dalam, saya gak suka ngubek-ngubek privacy orang lain... : ))
Bang Mas Paman 0 0
deadeye doll: awak infotainment itu jurnalis atau bukan, mmmm... tanya maharrani aja deh : D
Bang Mas Paman 0 0
yusro: pekerti, kesantunan, emang mahal : D
Bang Mas Paman 0 0
Chika: aha! gitu ya?
Bang Mas Paman 0 0
wiwikwae: udah capek,. laper, dikejar tenggat, eh media kompetitor yang dapat duluan : D
Bang Mas Paman 0 0
deeda: ya kayak jurnalis umumnya 'kali ya. : D
deadeye doll 0 0
Bang Mas Paman: emangnya maharrani pernah teriak2: "Heh jawab dong! Kalo lu ga jawab kita ga bisa makan nih!" gitu ya? : p

Bang Mas Paman 0 0
deadeye doll: Gak lah! Orang maharrani makannya bareng saya -- kadang sih, dekat dapur : ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat