Artworks: Kemewahan di Era Musik Digital 10

Rabu, 5 Agu '09 17:46

Kemasan album Tika and the Dissident, The Headless Songstress, yang pernah dibahas oleh Deadeye Doll itu sungguh oke, menggoda. Memang sih saya rada kerepotan ketika saya mencabut buklet tebal penjepit CD dari kantong kainnya. Oh ya salah satu lagunya, Mayday, yang tersebar saat Hari Buruh 1 Mei lalu, ada di sana. Tabik tinggi untuk tim kreatif.

Artworks dalam kemasan rekaman belum mati. Itulah kesimpulan saya. Sama seperti ketika saya melihat kemasan rekaman The S.I.G.I.T., The Visible Idea Of Perfection dan yang baru EP + DVD Hertz Dyslexia. Yang pertama dulu unik, keren, luxurious. Yang kedua fungsional, dengan karton tebal pewadah dua cakram. Ilustrasi EP ini bagus.

Mengapa artworks saya anggap penting? Inilah era musik berformat digital, sehingga artworks cukup dilihat sebagai thumbnail dwimatra di iTunes, karena konsumen tinggal mengunduh entah dari mana, termasuk USB flash disk temannya, atas nama spirit berbagi.

Ini zaman praktis. Musik toh didengar pakai earphones, sehingga MP3 dengan bit rate sedengan pun cukup. Info seputar konsep musik dan tentang musisinya tinggal ditengok di situs resmi dan MySpace.

Dalam peta macam itulah konsumen yang masih berpola lama, membeli kemasan physical, layak dihormati. Sama seperti penerbit buku menghormati pembelinya melalui bukti bahwa kemasan fisik itu mulia adanya. Dalam mengonsumsi musik, Sleeves tetap menjadi pegangan ketika konsumen (tertentu) lagi malas terkoneksi ke internet. Maka saya pernah menulis tentang "mencari sampul rekaman yang apik".

Atas dasar itu pula, selain musiknya, saya menaruh hormat kepada Teenage Death Star yang kemasannya bagus banget. Juga The Trees and the Wild dengan Rasuk-nya: sudah musiknya bagus dan enak (menurut saya), artworks pun okay. Sampul yang sederhana tapi kuat, dengan ilustrasi yang rada muram. Desain album The Place I Wanna Go-nya Risky Summerbee and the Honeythief (Yogya) juga saya hargai. Begitu pula musiknya yang bagus.

Memang sampul tak harus mewah ataupun asal nyeleneh. Thom Yorke sudah membuktikannya dengan amplop berilustasi untuk The Eraser.

Kemasan monumental tentu juga perlu. Misalnya kemasan CD Tool 10000 Days: ada lensa untuk menikmati sajian visual 3D dalam kertas. Meski tanpa efek macem-macam, kemasan CD edisi terbatas yang serbahitam dari Keenan Nasution (Dengarkan Apa Yang Telah Kau Buat) yang pakai nomor seri itu juga layak koleksi.

Semua kemasan yang saya contohkan adalah "produk regular", bukan untuk collector's item. Meskipun begitu ada juga yang memprhatinkan. Kemasan album God Bless 36th itu menyedihkan. Logotype (bikinan Markus Djajadiningrat, 1974?) ditempeli begitu saja dengan "36th" yang kurang cocok.

Padahal ketika God Bless melansir rekaman pertama, album Huma di Atas Bukit (abaikan soal Firth of Fifth dari Genesis di sana), desainnya bagus. Logotype yang awet muda (ketika gaya retro laku, logo itu pas banget), dengan potret Achmad Albar yang dikemas pop art (secara line art, kalau sekarang ya vektor) itu memberi kesegaran kepada musik Indonesia yang saat itu didominasi pose berfoto jejer di taman.

Masih ada waktu bagi kemasan physical untuk hidup. Seiring meningkatnya keasadaran branding dan konsep produk, maka selain merchandising tentulah artworks untuk produk rekaman. Kalau dikemas jadi satu ya seperti Slank mengemas paket kaset, VCD dan kaos Anthem for the Broken Hearted. Itu yang tak ada di MP3, baik unduh beli maupun mengopi dari meja sebelah.

 


Tag: god bless, tika, artworks, slank, risky summerbee, the trees and the wild, keenan nasution, the sigit, teenage death star

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

deadeye doll 0 0
jangan lupa White Shoes and The Couples Company yang sengaja kolaborasi dengan seniman lukis Jogja.
Speaking of Jogja, saya sedang menunggu pesanan CD Zoo, band experimental Jogja yang merilis album fisik berisi 3 CD dalam kotak kayu yang dibuat sendiri sama bandnya : )

sudah (lewat) waktunya industri lini besar untuk menggarap artwork rilisannya dengan lebih serius.. isinya muke lagi,muke lagi
Bang Mas Paman 0 0
Gak sabar ngeliat 3 CD dalam kotak kayu.
Tadi saya juga bilang ke temen, kemasan bagus Indonesia itu bukan dari major label. Muke lagee mukee lageeeeeeeee? Huahahahaha!
Mereka emang konyol, udah tahu MP3nya yang laku, dan tampang artisnya ada di TV dan internet, masih saja jualan muka. : D
maharrani 0 0
Bener banget Bang Mas Paman.
Pembeli (yang tidak ambil pusing soal HAKI) pasti butuh alasan. Justifikasi buat merogoh kantong (apalagi yang pas-pasan) dan membeli CD atau kaset mereka.

setuju sama deadeye doll kalo muke sih ikut miss miss-an aja ya. atau main sinetron dan modelling. please..nggak usah nyanyi hehehe.
Bang Mas Paman 0 0
Katanya sih muke masih menjual. Kata orang dagang lho. Lha wong muke udah edar di stiker angkot gitu, masa sih masih kagak percaya ama jualan sendiri?
deadeye doll 0 0
teenage death star juga keren.
selain artwerk oke buatan personilnya yg emang seniman, dilampirkan pula cd kosong untuk membajak cd originalnya : ))

pasti ada kok musisi papan atas yg mengemas rlisannya dgn serius. tapi siapa ya...
Bang Mas Paman 0 0
@deadeyedoll: kemasan serius yang bukan collector's item? susah tuh.
Tapi Slank lama, yang pake "kain keras" (buat rangkepan baju di penjahit) boleh juga tuh.

Kemasan Teenage Death Star saya acungi jempol!
Masova 0 0
Itulah kenapa saya bangga sekali beli CD music daripada sekedar donlod..
Mocca yang pinsil warna itu juga keren.. : D
Bang Mas Paman 0 0
Masova: tapi bagi orang lain kadang itu gak penting tuh. donload aja, selesai : D
deadeye doll 0 0
tapi keuntungan buat kolektor kemasan fisik adalah: kita bisa tua dan megang wujud nyata dari album yang mewakili whats hot in our years, sementara yang laen hanya meratapi format mp3 yang udah gak IN lagi dan bikin mereka gak bisa nostalgia heuehuehe
Bang Mas Paman 0 0
deadeye doll: Betooollllll! Itulah artifak! : D Apalagi ada tandatangan artisnya, minimal tanda tangan si pemberi gift -- siapapun dia.

Silahkan login untuk memberikan pendapat