Propaganda 3 Doa 3 Cinta 3

Minggu, 2 Agu '09 06:12

 

Ini memang film setahun yang lalu.

 

Jujur, awalnya saya tertarik untuk nonton film ini dikarenakan dua bintang muda yang bermain sebagai pelaku utama di film ini, yaitu Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo.

 

Terakhir kali melihat penampilan Nicholas adalah pada film 3 hari Untuk Selamanya, sedangkan Dian Sastro saya melihat penampilan terakhirnya di Banyu Biru.

Sulit menemui artis dengan penampilan dan talenta seperti mereka.

 

Melihat sampul vcd film ini sekilas.  Saya mengira alur ceritanya palingan Cuma seputar kehidupan anak pesantren yang jatuh cinta dengan lawan jenisnya.

 

Ternyata lebih kompleks daria yang saya kira.

Film beralur lambat ini, kalau bisa dikatakan sangat lambat.  Bercerita tentang kehidupan santri di Pesantren Al Hakim, kehidupan tiga santri bernama Huda, Ryan, dan Syahid.

 

Masing-masing mempunyai impian dan obsesi yang mereka torehkan di dinding belakang pesantren tempat mereka sempat-sempatnya nongkrong bertiga di waktu entah kapan.

 

Saya kira ini semacam film propaganda.  Yang kalau ditonton oleh orang yang belum tahu tujuan masuk pesantren yang sebenarnya, takutnya akan menafsirkan bahwa kehidupan pesantren adalah persis yang di arahkan  oleh sang sutradara.

 

Mungkin saya sekedarkan meluruskan beberapa hal yang saya rasa agak janggal.

 

Pertama, memang santri itu juga manusia biasa, tapi mereka juga diajari norma-norma hingga tahu bagaimana cara bergaul dengan lawan jenisnya.

 

 

Kedua, santri yang digambarkan dikirimkan ke pesantren karena orangtuanya tidak mampu mengasuh anaknya, tidak sepenuhnya benar.  Karena orangtua mengirim anaknya ke pesantren lebih karena untuk memperkaya pengetahuan agama dan kemampuannya daam hidup di masyarakat.

 

Ketiga, pemenggalan ayat-ayat suci, atau malah tidak ada dasar ayat suci yang di katakan di film.  Padahal ini fatal kalau ditafsirkan beda oleh orang yang tidak tahu isi ayat secara keseluruhan, karena bisa mengubah arti yang sesungguhnya.  Ada beberapa scene yang tiba-tiba langsung pada terjemahannya saja.

 

Kemudian yang paling parah adalah usaha untuk mengarahkan pemikiran seolah-olah di pesantren itu di doktrin untuk melakukan bom bunuh diri yang sekarang malah dilencengkan menjadi teroris. 

 

Saya cuma berharap semua yang pernah menonton film ini bisa menonton dengan otak.  Tidak dengan emosi semata.  Mungkin banyak hal-hal lain yang terkesan dipaksakan dan bertebaran di sepanjang film ini.

 

Dan hal yang menarik adalah, membandingkan kejanggalan yang ada dengan kenyataan yang sebenarnya.  Selain itu, jika ada yang menghendaki alur cerita yang bagus, maaf, anda akan kecewa.

 

Resensi lainnya bisa di lihat disini.

 

 


Tag: nicholas saputra, Dian Sastro

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maharrani 0 0
hmm..belum nonton filmnya sih
tapi sepertinya film ini kurang diminati yah..
waktu itu di bioskop rasanya tayang hanya seminggu.

kalau menurutku lebih menarik itunya..
wong yang main disaster & nico, masa iya ga ngehits.. : )
warm 0 0
@missmaharani tujuan utamanya kyknya memang ga utk komersil, soale pake sponsor sgala..
lontongsayur 0 0
saya nonton film ini di bioskop pada saat kemunculannya.

film ini sarat informasi, banyak yang ingin di suarakan tapi terkungkung dalam durasi tidak sampai 2 jam itu. dan dengan alur lambat pula!

film ini di buat berdasar riset atau pengalaman si penulis/ sutradara yang pernah mengalami pesantren ini (cmiiw) makanya saya kurang familiar dengan siapa dia.

saya juga punya banyak pertanyaan setelah nonton film itu karena terus terang saya buta tentang pesantren : ))

oh iya pernah juga di bahas di blog saya, : p
mungkin isinya sedikit berbeda dari tulisan anda
http://vidyaipied…3-cinta.html

Silahkan login untuk memberikan pendapat